Thursday, June 15, 2017

Ifhtar di Bulan Ramadhan

Ga terasa ternyata sudah dua tahun berjalan setelah post terkahir saya di blog ini dan bertepatan di bulan Ramadhan. Ga tau kerasukan malaikat apa, sore ini tiba2 keinginan menulis muncul kembali. Dan kali ini ingin membahas tentang ifthar atau berbuka puasa.

Some said,  
"Wid, kamu sombong banget sih ga ikutan buka bareng."
 Or,
"Ga usah sok sibuk, kamu loh jomblo, kaya ada aja yang nemenin buka."
Etc.

Berbuka puasa memang menjadi ajang silaturahim. Bagi yang buka bareng dibiayai perusahaan atau instansi tempat berkerja, bukber/ bubar bisa jadi kendaraan untuk mencoba restoran oke, yang ibaratnya sehari2nya kita kepikiran aja engga pernah untuk makan disana, well, because of the damage cost. Ha-ha-ha.

Back in 2010, where it all begins. Saya berada ditengah perjalanan untuk kembali ke Bandung dari Subang. Waktu berbuka sudah dekat, belum ada masjid terlihat, dan ban motor bocor. Dahaga dengan bahagia menggelayut di kerongkongan. Pelik, saya pikir saya akan mati.

Sampai akhirnya ketemu warung kecil ditengah perjalanan, alhamdulillah, hamparan kebun teh pun sudah ga terlihat hijaunya karena memang sudah senja.


Saya mampir untuk beli minum. Didalam warung kecil itu ternyata ada istri dan si tunggal dari si bapak. Saya malah ditawari makan, dan ucapan ibu di senja hari itu yang membuat mata saya menetes, membasahi nasi dan pete yang saya makan dengan kecap manis dan membuatnya semakin gurih. Membuat pribadi saya jauh lebih baik menghadapi gempuran cobaan.

"Dihabiskan nak, makan yang banyak, petenya segar, belum tentu kita bisa buka pake pete besok."

Buat orang kebanyakan pete adalah buah bau yang harganya ga begitu mahal. Buat saya pete salah satu buah yang masuk dalam kategori makanan yang bisa dimakan. Dan buat keluarga itu, pete adalah harta ternikmat di senja itu, di waktu berbuka, disaat Tuhan melihat hambanya dan memberi rahmatnya, dan disaat itu pula lah, saya menjadi lebih bijak melihat kehidupan.

Saya mendapatkan kebahagiaan Ramadhan. Kebahagiaan itu masih terasa sampai sekarang. Saya tinggal menutup mata dan mesin waktu di kepala saya menjalankan tugasnya. Andai saja waktu itu saya membawa kamera.

Kebahagiaan yang tidak pernah saya dapatkan di acara2 buka bersama dengan kalangan mana saja. Kebahagiaan yang hanya saya dapatkan dengan berbuka dengan keluarga, berbuka di masjid, atau berbuka seperti diatas yang saya ceritakan, dengan yang sedikit. Less is more.

Saat itu, benar2 mengubah cara pandang saya tentang bagaimana berbuka puasa seharusnya. Dari yang berbuka bersama hampir setiap hari, sekarang tidak pernah. Maksimal saya alokasikan untuk orang2 yang terdekat saya. Dengan mereka, setidaknya tidak ada kekosongan dalam hati, tidak ada hura2, dan tidak ada yang sia2.

Berbuka bersama memang baik, karena menjalin silaturahim. Tapi akan jauh lebih baik jika berbuka dengan keluarga, berbuka di masjid, berbuka dengan yang sedikit, berbuka dan tidak meninggalkan solat fardhu atau tarawih berjamaah.

Saya bersyukur hari itu Tuhan memberikan pelajaran dalam hidup saya.

Saya bersyukur hari itu Tuhan mengetuk dan mengucapkan salam ke hati saya.

Saya bersyukur jika tidak ada kesia2an dalam berbuka.

Saya bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk merasakan berbuka di Ramadhan yang sedikit. Dan karena sedikit, saya tidak ingin ini tersia2kan.





"Less is more."
Balikpapan
17:59
With Love.


No comments: