Friday, July 3, 2015

Diferensial dan Integral Dari Bulan Ramadhan

Tidak terasa udah menjalani setangah dari bulan Ramadhan 1436.

Topik kali ini menarik banget. Diferensial (turunan) dan Integral (naikkan) dari sebuah sistem yang dinamai bulan Ramadhan. Hahaha, abaikan lah, sesungguhnya penulis juga tidak tau apa itu definisi dua kata itu, biar dibilang saintis aja.

Sebenernya pengen bahas tentang intisari dari Ramadhan itu sendiri, tapi sudah banyak kalau kita cari di google atau mesin pencari lainnya, bahkan lengkap dengan kutipan ayar Quran dan tafsirnya dilengkapi dengan hadist qudsi (perkataan Allah yang diriwayatkan rasul) dan juga hadist dari Rasulullah SAW.

Tapi tetap penulis akan berbagi pikiran tentang turunan dan naikkan dari bulan Ramadhan itu sendiri baik dari kacamata penulis maupun dari ilmu sang mentor, kita mulai dari kacamata penulis.

Kacamata Penulis:
Menurut penulis fungsi turunan dan naikkan daripada Ramadhan sendiri adalah SOLUSI. Apa saja?

1. Resepsi Pernikahan
Jadi pada hari minggu lalu, saya bersama teman2 ada sesi poto bareng di Balikpapan Dome Convention Center. Sesampainya disana banyak banget truk dan mobil muat yang siap mengangkut properti dari sebuah acara pada umumnya, kursi, tulang2 panggung, dekorasi, dll. Dan sampailah kepada pemikiran,
  
  "Kenapa ga ngadain resepsi saat bulan Ramadhan aja? Bisa hemat pengeluaran sampai dengan kurang lebih 50%".

Lalu temen jawab,
  "Kan kasian yang puasa Wid ga bisa makan, pasti kalo pun ada resepsi pasti malam, dan kalo malam ga jadi menghemat."

  "Loh inilah kenapa Ramadhan menjadi solusi, kalo emang resepsinya malam, akad dan resepsi bisa sekalian diadakan di masjid, dapet takjil dan makan gratisan kan dari masjid. Wkwkwk. Oke, taruhlah kita seorang yang malu gratisan, gapapa kita ga jadi menghemat 50%, kita sediakan takjil dan makanan buat ifhtar (berbuka) dan makan bagi tamu yang datang."

Rugi? Sungguh tidak, karena Rasul bersabda,
"barang siapa yang menyediakan buka dan makan bagi saudara muslimnya yang berpuasa, maka atas mereka pahala daripada yang berpuasa".

Bayangkan, niatnya gratisan, berujung malu sebagai seorang insan yang ga gratisan, berakhir pahala kumulatif daripada tamu2 undangan yang berpuasa. Masyaallah kan yaa..

2. Perekonomian Mandiri
Dengan kebijakan pemerintahan yang sekarang yang sungguh sangat tidak pro rakyat, bulan Ramadhan bener2 menjadi solusi perekonomian kecil, mikro, dan menengah. Bagaimana engga, di bulan ini semua orang berlomba2 berjualan dari kuliner ke pakaian lalu kerajinan tangan dan ajaibnya entah darimana mereka mendapatkan modalnya, modal yang kalau di bulan2 biasa pasti jadi kendala susahnya untuk menjalankan usaha. Saya akui itu. Disini lah letak rahmat dan keajaiban Ramadhan.

Padahal kalau mau ditilik lebih dalam, harga bahan pokok pun meningkat pesat di bulan ini. Dan usaha tetep lancar jaya. Kebayang kan kalau pemerintah mengadakan sayembara atau bahasa kerennya semacam entrepreneurship challange  gitu dengan menunjuk salah satu bank syariah, ga usah lah repot2 bikin proposal bisnis, cukup mencari usaha dengan produk terbaik dan terniat, masing2 satu dari berbagai kategori seperti kuliner, fashion, dan crafting atau kerajinan tangan yang dijuri oleh praktisi bisnis dibidang tersebut masing2. Lalu dibina dan diadakan setiap tahun, mungkin ditahun2 kedepan kategori usahanya bisa berbeda guna menjaga persaingan tetap sempurna. Mungkin kategori usaha kreatif bisa jadi salah satu tema sayembara. 

Berapa banyak rakyat kecil yang kita kuatkan perekonomiannya? 

Sedihnya malah pemerintah malah mendatangkan pekerja dari cina untuk bekerja di Banten dan Papua. Bukannya memakai tenaga lokal. Belum lagi BUMN yang dilepas di lantai bursa. Bukannya memperbanyak BUMN.

Lalu badan amil zakat. Di zaman khalifah Abu Bakar RA, orang2 sampai bingung mau memberi sedekah dan zakat ke siapa karena rakyatnya makmur sejahtera karena sedekah dan zakat yang dikelola dengan sungguh sangat baik. *mohon koreksi jika saya salah berkaitan masa kekhalifahan siapa yg makmur dan sejahtera*

Kemarin sahabat saya berbagi ebook tentang zakat, tapi karena malas belum aja saya baca. Penulis yang malas membaca, jangan dicontoh yaa adik2. Hahaha. Nah, karena belum membaca itu penulis kurang mengetahui tentang bagaimana pengelolaan zakat. Penulis berjanji mempelajarinya. Aamiin~
Berkaitan dengan pengelolaan, penulis kurang mengetahui, apakah dana zakat dapat dikelola menjadi usaha yang nantinya dikembalikan ke rakyat. Tapi setahu penulis dana zakat boleh dikembangkan untuk usaha umat.

Bayangkanlah temen2, potensi zakat di negara Indonesia tercinta ini sebesar 217 triliun/ tahun. Bahkan dengan dana sebesar itu kita bisa buyback BUMN yang sempat dijual pemerintah, bisa menasionalkan perusahaan swasta yang mempekerjakan penduduk lokal, atau bahkan bisa membangun BUMN lagi. Tapi sayangnya kalo membangun BUMN ada kemungkinan dikorupsi pejabat negara lagi. Lebih baik tetap pada ide usaha mikro, kecil, dan menengah.

Bukan kah ini solusi? Ramadhan sebagai, ohh bukan.. ISLAM sebagai SOLUSI.

Turunan dan naikkan dari bulan Ramadhan melalui kacamata sang mentor akan diposting di blog selanjutnya yaa. Bookmarks yaa brownis. Kaya masih ada aja yang baca ini blog. Tapi gapapa tetep positif. Hahaha..