Tuesday, April 22, 2014

Periods of Distrust (Letter to God)

Living this life for 24 years. So much things to said yet for what it have to be said, since I am not the sun.

Since my very childhood I never live up to what I want. Dreams sit calmly in the heaven. 

Some people have money. Good for them. But some people don't.

Some people eat a good food. Good for them. But some people don't.

Some people had their path goes well with their parents backgrounds and support. Good for them. But some people don't.

The other one who had a brilliant IQ pursuing science to what is matter. Good for them. But some people don't.

The other constantly shining on the workplace. Good for them. But some people don't.

The other one keep calm and remain silent. Good for them. But some people don't.

Some of them had love and be loved. Some of them cannot take care of their love. Some of them lost their loved one. Some of them still playing single. Some of them miss how it feels to love and to be loved.

Yet, some people don't.

There are some who blaming their life too yet no action to turn the bow of the ship. Good for them (?) But some people don't.

Some people keep fighting yet they cannot reach their dream eventually. Good for them (?) But some people don't.

And the others like me, screwed in every single bend. Good for me (?) But some people don't.

Sering kali aku bertanya kepada Tuhan kenapa harus seperti ini, kenapa harus seperti itu. Bagaimana bisa seperti ini, bagaimana bisa seperti itu. Terkadang Tuhan menjawabnya dengan waktu. Tapi terkadang Tuhan tetap menyimpan jawabannya.

Melihat kehidupanku 24 tahun ke belakang, banyak sekali keinginan yang tidak tercapai dan beberapa tidak akan pernah terulang. Aku kehilangan banyak hal. Tapi toh Tuhan tetap memenuhi kebutuhanku. 

Tuhan, hanya engkau yang mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati dan pikiranku. Tuhan, pernah beberapa kali hamba tidak mempercayai lagi mimpi hamba, padahal itu pula yang membuat manusia bernilai di mata-Mu. Tuhan, tapi hamba tidak pernah berputus harapan akan kasih sayang Mu. Walau pada akhirnya mungkin hamba tidak percaya pada mimpi hamba lagi, tapi izinkan hamba mempercayai kasihsayangMu bahwa Engkau akan selalu memberikan apa-apa yang terbaik dan apa-apa yang hamba butuhkan.

Tuhan, unlike others, I am leaking instead gaining. I lost so much things in this very age. But Your love makes me complete. Tuhan, gantilah setiap tangisan dengan kebahagiaan tak terduga. Tuhan, jawab setiap mimpi dengan keajaiban tak terkira.

Tuhan, lindungi orang-orang yang hamba sayangi dan kasihi. Cinta yang hamba lantunkan dalam doa tolong sampaikan ke mereka dengan cara Mu. Jagalah mereka dalam pelukan Mu.

Tuhan, dalam tangkisku ku merindu Mu.

Tuhan, apa Kau melihatku?



Di tengah kesunyian malam dan kesepian yang mendalam
Jakarta, 22 April 2014


Monday, April 7, 2014

3-Ta dan Cinta

Apa yang kamu cari?

Salah satu pertanyaan terbesar yg selalu gw rewind setiap kali melakukan apapun kapanpun dimanapun.

Tiga jawaban ter-simple di dunia dari pertanyaan di atas ga lain dan ga bukan hanya harta, tahta, wanita.

Sedikit intermezo, gw dibesarkan dari keluarga yang dulunya benar2 di bawah. Bapak dulunya kehidupannya lumayan oke, mungkin kalo bahasa kerennya sekarang manajer lah di perusahaannya. Tapi harus tinggal di lokasi berbulan2, kata Mama si kakak sampai manggil Bapak dengan panggilan Oom sangking ga pernah ketemu dan jadi ga kenal. In the end Bapak resign dari perusahaannya demi kebersamaannya bareng anaknya. Dari situ jua lah kehidupan keluarga dimulai dari nol. Dari makan nasi cuma pake garem sampai telor dadar satu dibagi empat semua udah dirasakan. 

Miskin, begitu bahasa Indonesia nya. Apapun Bapak lakukan, jadi tukang ojeg pun pernah. Susah, dari jaman baheula juga susah kalo mau cari kerja tapi ga punya link dan idealis. Sayangnya sifat itu juga yg turun ke gw.

Pendek cerita Bapak ngikutin jejak Mama untuk jadi Oemar Bakri, kalo bahasa majasnya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Akhirnya Bapak memutuskan untuk menjadi guru, terlihat keputusan idealis nya itu membuat wajahnya awet muda walau sekarang terlihat kurusan.

Dengan background seperti itu ortu gw bener2 menanamkan dua hal, nilai dari buah pendidikan dan arti dari kata harta.

Waktu kecil selalu denger ortu berpesan, "harta bukan segalanya, cinta yang utama". Seiring bertambahnya usia kata2 itu berubah menjadi "makan tuh cinta!".

Terus, apa yg gw cari?

Harta?
Kebetulan aja kerjaan gw berhubungan dengan uang, tapi ga tau kalo emang udah tertulis di kitab Tuhan. Padahal dari dulu gw udah nolak kerja di bank eh sekarang malah terdampar di ranah yg paling gw hindari. Di posisi gw sekarang ini gw bener2 ngeliat uang dari berbagai sudut pandang. Di satu sisi uang begitu berharga bagi sebagian besar orang, di sisi lain betapa uang tidak ada harganya karena sambil lalu saja, cash flow yg super dahsyat, di sisi lainnya lagi betapa uang bisa buat orang buta mata, gila akut, dan penyakit duniawi lainnya. Gw rewind lagi pelajaran dari ortu gw dan ooh benar, harta itu perlu tapi bukan segalanya. Sebaik2nya harta adalah manifestasi dari kesyukuran.
Ada satu tagline dari guru gw dan selalu gw ingat, 
        "letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu".

Tahta?
Agak males bahas ini karena sebenernya tahta butuh harta. Kalo punya tahta belum tentu punya harta, jadinya aja korupsi dan balik modal. Tapi kalo punya harta bisa bikin tahta kapan aja. Intinya tahta ini ga penting kalo ga ada harta.

Wanita?
Sebenernya agak panjang kalo mau bahas point yg ini. Tapi coba sedikit gw derivative kan. Hal yg membuat gila pria kebanyakan adalah wanita cantik. Sebaliknya hal yg membuat gila wanita kebanyakan adalah pria berharta. Kesimpulannya, pria harus berharta dan cakep sebagai bonusnya, dan wanita harus cantik dan berharta sebagai bonusnya. Skip.

Cinta?
Nah ini hal ter-dilematik banget, galau-able banget.
     "Emang lo mau ngasih makan binimu pake cinta? Makan tuh cinta!"
     "Hari gini yang penting tajir aja dulu, ntar kalo kaya, cewe tinggal tunjuk"
     "Gw udah cape ahh hidup miskin, mending cari laki kaya, masa sama lo tiap hari jajanannya gombal aja"

Yaa kurang lebih seperti itu lah bunyinya. Tapi serius deh, harta-tahta-wanita itu bener2 ga ada artinya kalo ga pake cinta. Gw dipromosiin buat jadi Project Finance Manager, tapi setelah gw liat kerjanya senior gw selama dia jadi PFM ini malah ga ada enak2nya, bersyukur itu jadi susah banget rasanya. Gaji emang besar, tapi apa itu yg dicari? Toh setelah dapet duit banyak ga punya waktu juga untuk menggunakannya, dan ujung2nya ngerasa kurang karena beban pekerjaan yg lebih berat.
"Kerjaanku berat banget kaya gini mestinya gajinya lebih gede lah", awalnya ada pikiran gitu, akhirnya yaa jadi korupsi.

Akhirnya gw mengerti kenapa orang bilang cari kerja itu kaya nyari jodoh, karna kalo ga ada cinta yg tumbuh dari kerjaan, pasti ada aja dan banyak aja hal negatif yg selalu membuat kita merasa kurang, parahnya kalo kita udah ga notice hal negatif tersebut dan menganggap perasaan kurang tadi cuma sebagai dinamika hati mencerna rasa.

Terlepas dari cinta, dua di antara tiga, jelas gw lebih membutuhkan harta dan wanita. Gw berfikir lagi.. Bukan, bukan ini yg gw cari, bukan uang sebagai harta yg gw cari, tapi uang sebagai alat investasi. Investasi yg cukup untuk diri sendiri dan lebih untuk berbagi. Bukan wanita yg mampu membuat hati berdebar2 di awal, tapi yg mampu setia ada dan menemani hingga akhir. Tahta? Lebih baik tetap Allah lah yang memilikinya.

Jadi, apa yang kamu cari?