Tuesday, September 3, 2013

Criticism is a Social Control

Jadi kenapa pada akhirnya gw memutuskan untuk menulis masalah ini karena kegelisahan gw di twitter. Short case, gw menggunakan twitter mostly sebagai media informasi, kepo, berhubungan dengan sahabat, dan kritik. And the problem is, selalu ada saja follower yg mungkin keganggu sama kritikan gw yg padahal jarang2 juga. 

Ohh maann, for god sake, twitter is a micro-blogging which means a smaller version of a blog, AND there are so much purpose in every single blog, AND one of them is used as a media to criticism, AND when you love a blog you gonna subscribe it OR if you simply don't interested you just close the tab-browser, AND which means you have the power to take it OR leave it too, AND in twitter it called FOLLOW or UNFOLLOW. Don't hurt your mental with different vibration of thought.

Silahkan unfollow @viniwidivici kalo sampe sini kalian ngerti dan ga ingin melanjutkan. *elap keringet*

Oke, ternyata anda memilih lanjut.

Kritik adalah kendali sosial.
Kenapa gw bilang kendali sosial? Yaa karena kritik bukan keluhan. Emang apa bedanya? Simpelnya sih kalo keluhan mostly tentang diri sendiri, kalopun ada keluhan tentang orang lain ato objek lain sifatnya ga membangun dan males buat orang mikir. Sedangkan kritik itu tentang orang dan atau objek lain yg KERAS dan insyaallah membangun serta membuat orang mikir TERGANTUNG si orang dan atau objek penerima.

Contohnya?
Keluhan:
  - Hahh dosen minta revisi ulang mulu, ga tau apa gw cape
  - Gila yaa jam segini masih aja lembur, bete, padahal pengen tenggo cepet2 di kasur
  - Kenapa sih lo nolak gw ca? Emang gw kurang apalagi selama ini?! *oke kamu kurang ajar*

Kritik:
  - Kenapa sih PLN ini malah ekspansi ke ASEAN padahal KalTim sbg lumbung energi PLN 
    masih gelap gulita
  - Calon Gubernur nya tua2 dan ga vokal euy, kemana anak2 muda yg koar2 di organisasi 
    kampus itu yaa? Apa sibuk jadi budak perusahaan asing yaa? Ahh +think aja.
  - Sepertinya ada conflict of interest ini sampai akhirnya pemprov menyetujui 
    pembangunan mega mall di Balikpapan, padahal warganya lebih butuh amusement park 
    atau taman pintar seperti di Yogyakarta

Udah keliatan belum sih perbedaannya? Masalahnya 2013 ini orang2 suka aneh, kritik yg keras di pandang negatif dan keluhan yg useless di pandang sebagai bahan lucu2an gitu. Gw sendiri sih juga suka lucu2an, yg ganggu gw kan cuman pandangan strict orang2 terhadap kritik.

Padahal di dunia nyata banyak banget kritik2 baik explicit atau implicit dalam hidup. Semuanya membangun. Memang yg explicit terlihat keras dan bila sang objek penerima ga bermental pemimpin yaa mikirnya "kenapa sih orang ini nentang mulu?". Kalo yg pinter biasanya kritikannya implicit lewat sarcasm biasanya.

"Bacot lo! Bisanya kritik aja! Ngemeng aja bisanya!", yaa pernah juga gw denger yg seperti ini. Biasanya orang yg responnya negatif terhadap kritik udah keliatan bukan orang besar, ga bisa nerima pendapat orang lain, narrow-minded, hidupnya selalu sesuai sama maunya, ga pernah memimpin, ga pernah berada dalam posisi yg tinggi dalam suatu organisasi, terlalu berdiplomasi atau yg paling dasar banget yaa ga pernah mikirin orang lain, self-centered gitu.

Malam itu gw nonton debat pemilukada kaltim di tvone, dan saat itu gw baca salah satu twit orang yg gw follow, gini twitnya,
"Paling enak jd tukang kritik..tapi apa yakin dia sendiri bisa jd lebih baik daripada yg di kritik?" *Ini pasti yg komen diatas ngeliat peng-kritik in negative way, it's okay hehehe :)*
Jadi yg di kritik disini maksudnya si calon gubernur tadi yg lagi ikut debat. Kalo menurut gw ini bukan masalah siapa yg bisa jadi lebih baik, semua orang harus jadi lebih baik! Tapi ini yaa masalah kritik, masalah kendali sosial. Kalo emang lo ga mau di kritik yaa jangan jadi pemimpin. Kita ga mau pastinya punya pemimpin yg ga becus kan? Kalo gitu jangan diam, berikan constraint2 kendali sosial tadi, uraikan yg menurut kita salah dan benar. Atau bila si calon pemimpin memberikan solusi X, tanyakan hal Y. Jangan sampai karena kita ga kritis things becomes worst eventually. 

Hidup ini pro-kontra brownies (browther n siester), ga semua orang setuju sama jalan pikiran kita dan belum tentu semua rencana dan bakal tindakan kita bisa aplikatif ke semua segmen kehidupan. Bisa jadi itu semua subjektifitas kita doang sebagai manusia, belum tentu benar secara aplikatif. Nah disini lah peran masyarakat untuk mengkritik sebagai kendali sosial kalau2 ada yg salah. Tapi terserah sih kalo mau jadi manusia yg legowo dan nerimo. It's a matter of a choice.

Kita bahkan bisa melihat kapasitas kepemimpinan dari saran yg diutarakan calon gubernur atas kritikan yg diberikan oleh komentator. Iyaa benar, cuman orang yg berjiwa kepemimpinan yg baik yg bisa menerima kritik dan memberikan saran secara vokal. Ini baru manusia yg kritik, Rasul yg kritik Allah sama Jibril. Jangan lembek gitu ahh.

Bukankah kalo kita sedang sidang skripsi kita juga dibantai habis2an sama dosen penguji? Ya itu wujud kritik! Keras kan? Bahkan sebagian mahasiswa berfikir keji dan killer. Padahal yaa itu buat si mahasiswa juga, si dosen mau ngelihat ini bener ga skripsi hasil kerja keras dengan sungguh2 dan kerjaan sendiri. Kalo bener si mahasiswa tentunya bisa menjawab dengan vokal kan?  Dosen juga keras dalam meng-kritik kita karena pengen lihat mental kita, mental baja apa engga? Karena seusai dunia kuliah, kehidupan sebenernya lebih keras dan akan jauh lebih keras. 

Sama kaya debat cagub tadi kan, kalo dia bisa mempimpin dengan bener, dia pasti bisa jawab semua pertanyaan/ kritik dengan saran yg vokal dengan mental pemimpin!

Kalau dalam hidup kita tidak mendapatkan kritik yang keras, berarti kita tidak melakukan sesuatu yang besar dan atau benar. Karena hal kecil sudah pasti kecil atau ga penting, dan hal salah udah pasti diterima sebagai sesuatu yang salah.

salam (n_n)v





Without criticism, no administration and no country can succeed, and no republic can survive. -John F. Kennedy



No comments: