Wednesday, July 10, 2013

Despicable Me 2 Worth To Watch (?)

Jarang2 gw nge-review film, karena biasanya butuh minimal dua kali untuk bener2 tau detail cerita. Karena kalo ga detail gw ngerasa berdosa karena ngasih sudut pandang dan info yg subjektif. Even udah detail juga ttp subjektif. Kekekeke..

Kemaren temen gw  mention di twitter bilang,
"Gara-gara ngetwit soal Despicable Me 2, akhirnya nonton stengah hati. Sebioskop ketawa, saya cemberut dewean. :/"

Awal film dimulai gw ga ngerasa excited, karena biasanya kalo film bagus, even jalan 5-10 menit kita udah bisa ngerasa film itu bakal sophisticated ending. Tapi ini engga sama sekali. Awalnya gw mikir apa mungkin karena ekspektasi gw yg tinggi setelah sekuel pertamanya Despicable Me, tapi ternyata setalah gw nanya 'ade' gw, dia juga bilang hal yg sama. Bahkan saat orang2 ketawa saat minion2 nya slapstick-an (lawak ala pukul2an gitu simple nya), gw sama 'ade' gw malah hening dan ga ketawa terbahak2 seperti yg lain.

Gw mesti bilang kalo Despicable Me jauh lebih baik daripada Despicable Me 2. Kenapa? Karena biasanya film animasi itu sarat akan nilai moral untuk anak2. Dan di film pertamanya jelas ada. Dimana Gru seorang penjahat super yg pengen jadi penjahat ultimate malah berubah menjadi sosok ayah yg baik karena bertemu Margo, Edith, dan Agnes. It shows us kalo hati yg suci dan tulus itu pasti bisa ngerubah seseorang sejahat apapun.

Tapi di Despicable Me 2 gw cuman ngeliat minions yg di eskploitasi dengan komedi slapstick-nya yg menurut gw TOO MUCH! Gw bahkan ga ngerasa ada nilai moral dari sekuel nya yg kedua ini. Padahal menurut gw Margo, Edith, dan Agnes itulah kunci dari film ini. Bukan minion2 nya.



Beberapa hal yg gw inget dari Despicable Me 2:
1. Minions
2. Underwear
3. Gelato
4. Bottom
5. Pip pip pip, dan;
6. Bentar2, ceritanya gimana yaa?


Tapi jangan telen mentah2, buktikan aja sendiri dengan nonton langsung. Ga tau kalo ga dicoba. Tapi tetep gw kecewa aja sama ini film sampe bikin mood terjun bebas. Sama halnya seperti Monster University


"Don't buy a movie cause its popularity, value comes first."


Tuesday, July 2, 2013

Pasca Survei Rumah

Hari ini tanpa disengaja (there's no coincidence on God's rules) gw bernapak tilas ke sudut kota. Niatnya cuma cari udara segar yg pada kenyataannya udara perkotaan juga tetep aja ga seger. Sampailah ke sebuah komplek perumahan bernama "Pesona Kahyangan". Gw emang doyan banget main2 ke komplek perumahan yg bagus2 gitu, dulu banget sih waktu kuliah niatnya ya cuman cuci mata karena perumahan2 di komplek yg megah gitu biasanya arsitekturnya bagus banget.

Kenapa bagus banget?
Yaa cause some people said that an architect is the other God's right hand besides a doctor. They are the extension of God to create arts and masterpieces.

Ohh gw sangat menikmati arsitektur yg indah. Thanks to you Architects. Thank God.

Terus mendekati penghujung perkuliahan timbul pertanyaan,
"Gimana sih caranya punya rumah sebagus ini? Berapa harga tanahnya? Biaya rancangannya berapa? Kuota listriknya berapa watt? Airnya pake PDAM ato air tanah? Network provider nya pake apa?"
Yaa seperti itulah kira2 pertanyaan yg muter di kepala.

Ga cukup sampai disitu. Akhirnya gw nyatet tuh nomor kantor pemasaran developer2 perumahan gitu apapun kompleknya. Terus kan di dalam komplek biasanya ada yg nyewain rumah sama jual rumah atau tanahnya, nah itu juga gw catet. Apalagi di masa2 akhir kuliah kan sering banget liburan ke villa2 gitu, acara perpisahan gitu, malam keakraban yg lebih akrab dibandingkan dengan awal2 kuliah. Padahal juga tuh nomor2 yg gw catet ga gw hubungin juga pada akhirnya. Hak hak hak....

Terakhir kali gw nginep di Villa Istana Bunga, disana bagus2 rumahnya. Tapi emang rumah2 yg di design sebagai villa, jadi ga gede banget ga juga kecil banget, yg penting cozy. Nah disana gw nemuin ide2 bikin rumah yg jauh2 lebih bagus lagi.

Sebelum bikin rumah yg "bagus" minimal kita harus tau ilmunya untuk bikin rumah "aja". Akhirnya google punya googling *semacam usut punya usut* sampailah kepada pengusaha developer perumahan seperti Elang Gumilang dan Aryo Diponegoro.

Dari mereka gw belajar property, ga pernah ikut seminar mereka sih karena kendala financial, jauh, dan ngerasa masih bisa belajar teori dari google. Dari pembebasan lahan, syarat KPR (Kredit Pemilikan Rumah), simulasi kredit, lahan strategis untuk mendirikan bangunan, posisi rumah terhadap matahari dan cuaca, sirkulasi udara dalam rumah, sampai ke keamanan rumah. Untuk prakteknya nanti lah nunggu duit dan partnership.

Dan tadi adalah kali pertama survei rumah pasca kelulusan. Mimpi yg lama terkubur, mimpi untuk jadi developer property. Gw memberanikan diri untuk mampir ke kantor pemasaran dan nanya harga tanah, syarat ketentuan, harga bangunan, pajak, bunga KPR, payback ratio per year, dan lain2. Kemajuan, hahahaha..

Ada beberapa hal dalam hidup ini yg gw set sebagai mimpi yg besar. Artinya mimpi gw ga cuma satu, jadi saat mimpi yg satu gagal masih banyak mimpi yg lain. Guru2 gw jg sering banget bilang, jangan batasi mimpi dengan idealisme buta, set mimpi yg tinggi, set berbagai jalannya seperti developer tadi. Tapi jangan terlalu banyak mimpi juga nanti ga ada yg jadi. Yg penting bermimpi yg besar, karena mimpi yg besar dampaknya besar pula dibidang apapun.

Developer tadi adalah salah satu dari beberapa mimpi  gw. Terserah mau developer perumahan, gedung perkantoran, infrastruktur negara, apa aja. Gw ga mau maksain Tuhan mimpi gw harus jadi, karena yg paling penting dari mimpi besar adalah ridho Sang pencipta. Karena mimpi yg kita kendarai bisa jadi nafsu, memerangkap kita dalam kecintaan duniawi yg menjadi penyakit hati. Sedangkan mimpi yg Tuhan ridhoi is nothing but greatness and compassion.

Dan saat tulisan ini di posting, pasti ada aja manusia yg mencomooh. Tapi gw ga terusik karena,
"As more and more people who booed, the more worthy of a dream to be realized, and the more likely to materialize."