Saturday, February 2, 2013

Serial Pemimpin : Didengar Atau Mendengar

Kalau ditanya kenapa judul post nya pake kata serial yaa kemungkinan besar post ini akan berlanjut ke seri selanjutnya, dan pada seri kali ini gw bakal beropini tentang kepemimpinan.

In the very beginning, pola pengajaran kepemimpinan yang diajarkan kepada anak2 sudah salah menurut gw. Sedari kecil kita dituntut harus bisa berbicara di depan umum. Dari jaman SD sampai lulus kuliah. Ga masalah memang berani berbicara di depan khalayak ramai. Yang jadi masalah buat gw, berbicara di depan umum ini tidak dibarengi dengan pengertian bahwa kita harus berbicara untuk kita sendiri, bukan atas orang lain. Karena cara setiap manusia dalam memandang dan berpendapat pastilah berbeda.

Alhasil, lahir lah generasi2 muda yang speak up. Mereka mampu berbicara untuk didengar, namun mereka tidak mampu mendengar. Generasi yang egois dan tak mampu memahami perasaan orang lain. Generasi yang memaksakan kehendak dan generasi ini yang akan memimpin dan melanjutkan tongkat estafet perkembangan Indonesia. Yakin sanggup?

Sedikit manusia yang sadar bahwa semakin banyak dirinya berbicara semakin sedikit dia mempunyai kesempatan untuk mendengar, mendengar suara selain suaranya sendiri tentunya. Dan semakin sedikit mendengar, maka semakin hati si manusia tadi mengeras dan membatu, lalu lahirlah manusia yang egois.

Lihatlah pemimpin2 sekarang ini di semua lapisan masyarakat. Mereka hanya mampu berkoar dan arogansi. Sekali pendapat ditentang, urat-urat kepala semburat mencuat. Yahh maklum lah, karena sedari kecil mereka diajarkan untuk berbicara bukan mendengar.

Lalu ada apa dengan mendengar? Yaa seharusnya sedari kecil para pemimpin harus diajarkan mendengar lebih banyak ketimbang berbicara.

Sedikit juga manusia yang sadar bahwa dengan semakin banyak mendengar semakin banyak kesempatan untuk mereka belajar bagaimana seharusnya berbicara. Dan semakin banyak mendengar maka semakin hidup hatinya, lunak dan bahkan bisa menjadi mata air dimana air selalu bergerak kebawah menunjukan pribadi yang rendah hati, dan seperti air yang bergerak, selalu mensucikan.

Selama hidup gw yg kurang lebih 1/3 masa hidupnya Rasul, bisa dihitung jari kesempatan gw untuk menjadi pemimpin, baik dalam berorganisasi maupun kepanitian. Berarti sedikit juga kesempatan gw untuk berbicara. Sedari kecil gw jarang didengar, semua pendapat yg gw kemukakan jarang banget diterima. Awalnya gw jadi minder karena ga mampu ngimbangin kemampuan teman2 dalam mengemukakan pendapat. Tapi dari situ akhirnya gw sadar, semakin gw ga didengar semakin banyak pula kesempatan gw untuk mendengar, dan kesempatan itu yg menjadikan hati dan jiwa kita besar. Penolakan, ketidaksetujuan, beda pendapat, beda pemahaman, dan atau sejenisnya bagi seseorang yg jarang didengar sungguh sebuah pembelajaran hidup dan moral, membuat pribadi berjiwa dan berhati besar menerima perbedaan. Kebesaran jiwa dan hati inilah yg tidak didapat pemimpin2 hari ini. Karena sedikitnya intensitas mendengar yg pemimpin2 masa ini miliki, perbedaan kecil pun pasti susah dan berat hati mereka terima. Padahal dunia ini dibangun dalam satu tujuan diatas berbagai macam perbedaan. 

Gw gak begitu suka dengan orang yang terlalu banyak ngomong tapi ga bisa mendengar (kebanyakan pemimpin nih yg gini). Atau sekalinya mendengar lantas berbeda dan malah arogan, egois. Tapi gw suka banget sama orang yang suka berbicara namun tetap rendah hati, tidak egois, dan humoris (pasti pelawak dalam profesi/ kehidupan). Sayangnya orang seperti mereka pasti tidak akan pernah mau menjadi pemimpin. Kenapa? Karena dunia ini terlalu indah untuk mendengar canda tawa ketimbang berbicara dengan amarah murka.





"the quieter you become the more you are able to hear". -Backtrack


No comments: