Wednesday, February 6, 2013

If A Man Keeps Telling You He Loves You



I found that in a restaurant in Lembang called Maja House. It was a nice restaurant, with a view of a valley. I bet it’d be beautiful during sunset or at night, with city lights view.
I L.O.V.E sarcasm. So, when I saw that, I couldn’t help but giggled and took a picture of it. Apparently, regardless how romantic the restaurant can be, it is no place for dating (kidding).  
Also, this one quote crossed my mind when I read that wall,
“Husbands are chiefly good as lovers when they are betraying their wives.” ~Marilyn Monroe~
Are men always like that? Are they treat woman sweetly out of guilt? Or when they hide something from woman? 
I sure have no idea. It could be every possible ways. But  two women, Monroe and the one who wrote that wall (which I believe a woman), say so. Anybody else agree? 


Bos Sejati

Jadi ceritanya di Trans TV ada tv show baru judulnya Bos Sejati. Karena ngga ada yang kebetulan gw nganggur sekarang, gw jadi punya kesempatan nonton ini tv show  deh. Jadi ceritanya Bos atau owner dari perusahaan tertentu nyamar jadi pekerja di perusahaan itu juga.

Gw sempet ketinggalan tadi awalnya, tapi mungkin aja usahanya disini semacam restoran, dan si bos nyamar jadi apa aja, merangkap tukang delivery, pencuci piring, koki, dan lain sebagainya.

Awal2 acara lucu banget karena si bos sempet kena semprot dari pegawai2nya tadi karena ga bener kerjanya. Tapi inti dari tv show ini ada di akhir acaranya, dimana si bos tadi manggil pegawainya tadi satu persatu dan ditanya,
          "kamu kenal sama saya gak?"
          "ga kenal, bapak siapa yaa?", tanya si pegawai
          "saya bos kamu, nama saya pak zaldy" *bukan Zaldy Zulfikar loh yaa*
           jeng jeng jeng *camera zoom in zoom out*

Si pegawai nampak terlihat shock karena sempet marahin si bos saat kerjanya ga bener. Tapi si bos ga marah karena pegawainya melakukan hal yang sangat benar dan sesuai SOP. Saat bekerja si bos tadi juga ngobrol2 sama pegawainya, bertanya2 motif mereka kerja dan sebagainya. Ada yg jawab pengen bahagiain orang tua, ada yg bilang mau kuliah, ada yg bilang pengen punya masa depan, dan ada yg bilang pengen berguna, dan pegawai yg bilang ingin berguna tadi adalah pegawai yg sudah berumur 60 tahun.

Pegawai yg ingin membahagiakan orang tua nya tadi ditanya oleh si bos,
          "kamu punya handphone ga?"
          "punya pak", jawab pegawai
          "coba lihat hape kamu?"
       "ini pak", si pegawai mengeluarkan hape yg baterenya sudah mencuat kemana2, diiket pake karet, dan bukan batere bawaan dari hapenya. Lalu si bos bertanya,
          "kog gini hape kamu?"
          "yaa gitu pak, baterenya keluar"

Lalu sang bos memberi pegawai tadi hape baru yg bagus untuk mendukung kinerja si pegawai, pegawai tadi langsung bilang terimakasih kepada sang bos. Lalu sang bos menyuruh pegawainya tadi untuk membuka kotak hapenya, dan kata2 yg membuat gw tersentuh adalah si pegawai berkata,
          "pak, ini terlalu bagus pak, ini kemahalan pak buat saya", sambil menangis
          "iyaa ga apa, itu hape buat kamu, kamu pantas mendapatkannya"

Lalu sang bos mengambil amplop lagi dari laci meja kerjanya dan bilang ke pegawainya bahwa ada sedikit rezeki dari si bos, si bos memberikan ke si pegawai langsung, pegawai pun langsung membuka amplop dan terdiam, lalu kata2 yg dikatakan pegawai bener2 buat gw getar segetar2nya.
          "yaa Allah pak, ini banyak banget pak, ini kebanyakan buat saya pak"
          "iyaa, kamu pantas mendapatkannya, itu buat kamu"

Entah, gw bingung menggambarkan emosi yg gw rasain ke si pegawai dalam tulisan, karena tulisan pun kadang tidak mampu mewakilkan emosianal. Yg buat gw getar dalam kasus ini ada dua hal selain perkataan si pegawai yg sangat2 rendah hati dan tidak duniawi, yaitu keberkahan yg diberikan kepada si pegawai melalui si bos.

Pertama gw pengen lihat dari sisi si pegawai dulu. Mungkin di jaman sekarang ini gw yakin dengan sangat yakin sedikit sekali orang yg jika diberi harta dan atau kemewahan lantas malah berkata "ini kemahalan dan ini kebanyakan". Dan kenapa pegawai ini bisa berkata bahwa pemberian yg diberikan kepadanya kebanyakan? Sedangkan untuk hidup saja dia pasti kekurangan. 

Jawabannya adalah karena si pegawai itu mengerti bagaimana caranya bersyukur serta mengerti bagaimana caranya mendeskripsikan rasa syukur. Mendeskripsikan syukur? Pasti banyak yg bertanya2 gimana cara mendeskripsikan syukur. Syukur itu bukan lebih atau banyak, tapi syukur itu cukup!

Pegawai tadi sadar bahwa bukan harta yg banyak yg membuatnya bersyukur, tapi harta yg cukup yg sesuai kapasitasnya. Dia tau benar siapa dirinya dan dia tau dimana dia berdiri. Tapi Allah tidak pernah ingkar sama janji-Nya, kalau Allah berkata jika kita bersyukur maka nikmat akan ditambah, yaa ditambah lah nikmatnya. Contohnya si pegawai ini yg diberi uang melebihi kecukupannya dan hape yg canggih. Aa Gym juga selalu bilang,
          "pilih mana? sepatu hanya punya satu tp cukup atau sepatu banyak tapi ga ada yg  
           cukup?" hahahahaha

Kedua, disini gw pengen lihat dari sisi si bos nya. Gw selalu pengen ngerasain hal yg sama seperti yg dilakukan si bos ini. Memberi cuma2 dan tulus ikhlas. Pas gw nonton tadi, gw liat muka si bos tadi bener2 bersahaja banget, teduh, tenang, seperti dunia itu ditangannya aja, ga dihatinya. Allah pun menjanjikan 9 pintu rezeki untuk para pengusaha, dan 1 pintu untuk karyawan. Walaupun diberi 9 pintu, tapi wirausaha bukan jalan yg mudah makanya ganjarannya juga sepadan, 9 pintu sekaligus dan keberkahan dalam hidup. Gw masih nyimpen banget ini cita2 jadi wirausahawan, semoga bisa menjadi salah satu dari mereka. Aamiin..

Akhir paragraf, ada hal yg pengen gw sampaein ke temen2. Kita ga pernah tau betapa beratnya hidup orang lain namun kita tidak perlu menyebarluaskan betapa susahnya keadaan kita. Melihat kisah pegawai diatas, jangankan uang dan handphone, mungkin senyuman pun dapet membuat mereka semangat. Memang munking ga ada artinya ucapan terimakasih ato semangat yg kita ucapkan kepada para front liners, but for them, it could make their day better. Selalu bersikap baiklah kepada siapa pun juga. Be positive! \(^,^)/







Tuesday, February 5, 2013

Tips-tips Mengelola Sekte/Gerakan Radikal


(Tentunya gw gak bener-bener ngajak bikin sekte kali ya…. gile aja kalo kalian percaya! Lagian gw takutlah sama Densus 88!)
Lagi asyik baca buku ‘Paranormality’ karya Prof. Richard Wiseman. Profesor Wiseman awalnya adalah pesulap profesional yang kemudian mengambil kuliah psikologi dan menghabiskan banyak waktunya untuk menguji fenomena ‘paranormal’. Buku ini keren banget karena Wiseman menjelaskan tentang psikologi dan cara kerja otak manusia melalui penjelasan kejadian-kejadian supernatural (penampakan hantu, astral traveling, berbicara dengan arwah, dll). Gaya penulisan pun jenaka dan seringkali ‘ngehe’ – jadinya topik yang lumayan berat bisa enteng dibacanya.
Kebetulan gw sampai bagian tentang ‘sekte’ (Cult), dan pas banget di Indonesia kan tempatnya ‘cuci otak’, ‘radikalisasi’, NII, dll. Dan ternyata ada beberapa prinsip yang kelihatannya mirip. Berhubung buku ini kayaknya masih lama diterjemahin, gw share aja deh secara singkat di blog. Siapa tahu membantu.
Salah satu kasus sekte terparah di Amerika Serikat adalah sekte Jim Jones, seorang pemimpin sekte Kristen yang mengajak ratusan pengikutnya tinggal di sebuah kompleks terisolir di Guyana, dan berhasil MENGAJAK (bukan memaksa) seluruh pengikutnya minum jus anggur bersianida bersama-sama. 900 pengikut sekte mati bunuh diri di hari yang sama, 270 di antaranya anak-anak.
Bagaimana bisa orang mempercayai sebuah ajaran sesat/radikal dan mengikutinya sampai kematian? Penjelasan umum adalah sebuah sekte memberikan seseorang “tujuan hidup” bagi mereka yang merasa hidupnya tidak bermakna. Selain itu, sekte seringkali menyediakan pengalaman “keluarga”, sehingga menarik bagi mereka yang kehidupan sosial/keluarganya tidak memadai. Tapi selain itu, menurut Prof. Wiseman, ada beberapa trik psikologis yang digunakan:
1. “Getting A Foot In the Door”. Sumpah gw gak tau menterjemahkan ungkapan ini. Kira-kira makna lengkapnya adalah, asal kaki kita sudah ‘masuk’ di pintu, akan lebih gampang untuk seluruh badan kita ikutan masuk (ada gak tuh padanan ungkapannya dalam bahasa Indonesia?)
Prinsip psikologinya adalah: kita pada dasarnya tidak mau langsung berkorban besar. Tetapi, jika diawali dengan pengorbanan ‘kecil’, akan lebih gampang nantinya kita juga mau berkorban ‘besar’ – secara gradual. Ilustrasinya ya nasihat nenek kita: pacaran jangan pegangan tangan! Sekalinya boleh pegang tangan, si cewek akan lebih gampang dipegang pundaknya, rambutnya, pipinya, terus cium pipi, cium bibir, buka kancing atas, buka kancing…UDAH, UDAH! INI KOK JADI STENSILAN!
Tapi jelas kan poinnya? Kalau langsung minta ‘main dokter-dokteran’ lebih susah buat si cowok, dibandingkan mulai dari yang kecil2, seperti main pegang-pegangan …..(kok gua jadi ngajarin gak bener?)
Begitu juga dengen sekte/gerakan radikal. Awalnya pengorbanan yang diminta kecil saja, diawali dari waktu. 1 jam seminggu bertemu rutin. Lama-lama makin sering. Kemudian mulai diminta mengerjakan hal sepele. Kemudian mulai dimintai uang sedikit. Terus uang banyak. Terus diminta meninggalkan keluarga. Sampai akhirnya diminta meledakkan diri sendiri.
2. Berpikir Seragam / Perbedaan Pikiran Segera Ditumpas. Manusia dikenal memiliki mental bagai biri-biri (herd effect). Kita cenderung mengikuti orang banyak di sekitar kita. Eksperimen psikologi menunjukkan manusia bisa mengikuti ‘suara mayoritas’ walaupun bertentangan dengan apa yang dilihat langsung (eksperimen yang dikutip di buku lucu banget dengan hasil yang menakjubkan – sayang terlalu panjang kalau dishare di sini)
Dalam sekte/gerakan radikal, pengikut baru akan dikepung oleh para pengikut setia, sehingga meyakinkan si korban bahwa memang ajaran yang dianut sahih/kredibel. Selain itu perbedaan pendapat dan pikiran kritis akan segera dihukum keras oleh pemimpin, dengan label ‘dosa’ atau ‘tidak beriman’. Bertemu/berdiskusi dengan mereka yang pahamnya berbeda sangat dilarang, dengan ancaman hukuman keras.
3. Penggunaan mujizat/fenomena supranatural. Pemimpin sekte/gerakan radikal juga menggunakan demonstrasi mujizat untuk meyakinkan otoritasnya atas para pengikutnya (“Gua bisa bikin keajaiban, jadi terbukti gw utusan Tuhan. Jangan macem-macem sama gua”). Tentunya, “keajaiban” ini tidak lebih dari trik sulap/ilusionis biasa, yang bisa dilakukan Deddy Corbuzier atau Pak Tarno. Tapi bagi mereka yang mau percaya buta pada pemimpinnya, ditambah ancaman hukuman kalau mempertanyakan, trik meijik bisa jadi mukjizat beneran, dan validasi atas pemimpin sekte/kelompok.
4. Ritual/Inisiasi Yang Berat/Menyakitkan. Dalam banyak sekte/gerakan radikal, para anggota baru harus melalui proses atau ritual inisiasi yang bisa sangat memalukan, atau menyakitkan secara fisik. Anehnya, hal ini tidak membuat mereka menjadi kapok dan meninggalkan kelompok tersebut. Sebaliknya, jika dilakukan secara efektif, akan menyebabkan mereka tambah setia pada kelompok/ajaran itu. Penjelasan Prof. Wiseman: karena kita sudah melakukan pengorbanan berat menjadi anggota sekte tersebut, tanpa sadar kita berusaha ‘membenarkan’ keputusan kita – dengan cara menjadi anggota yang semakin loyal.
Kasus yang mirip dengan kejadian sehari-hari kita sebagai konsumen. Misalnya, kalau kita susah payah dengan darah keringat mendapatkan tiket untuk sebuah konser, secara bawah sadar kita akan berusaha “menjustify”nya dengan meyakinkan diri bahwa konser tersebut bagus! Masuk akal juga sih, “Gila aja, gw udah capek kayak gini dapetinnya masak terus gua gak suka?”
Praktek ritual inisiasi berat ini sebenarnya lumrah juga di aktivitas kampus atau unit mahasiswa, atau militer: ada proses perploncoan yang berat dan fisik, sehingga anggota menjadi semakin terikat secara emosional
Bahkan semua prinsip di atas sudah diaplikasikan dalam dunia marketing, tentunya dengan tujuan membeli produk dan bukan meledakkan diri sendiri ya (konsumen yang mati kemungkinan tidak akan membeli produk kita lagi). Misalnya, Prinsip 1: berkorban sedikit – biasa digunakan salesman/marketer. Konsumen mungkin tidak akan mau ‘langsung’ membayar Rp 100,000. Tetapi kalau awalnya Rp 50,000, terus sedikit-sedikit “diupgrade”, “diupsize”, dll, lama-lamanya jadinya Rp 100,000 juga! Begitu juga Prinsip 3: mujizat, biasa digunakan dalam demo produk atau advertising, iya kan? :)
Begitulah teknik-teknik menjalankan sekte/kelompok radikal menurut Prof. Wiseman. Kalau kita bandingkan dengan kisah-kisah yang sekarang ramai di media massa mengenai “radikalisasi”, ada kemiripannya ya? Jadi kalo punya temen/keluarga yang terlibat kelompok-kelompok yang menggunakan teknik-teknik di atas, hati-hati yah!
By the way, bukunya recommended banget! Terakhir ada yang bilang sudah dijual di Indonesia. Tapi ya itu, masih impor sayangnya.
Sekian sharing sedikit dari buku ini, siapa tahu berguna, minimal mencerahkan.

Saturday, February 2, 2013

Serial Pemimpin : Didengar Atau Mendengar

Kalau ditanya kenapa judul post nya pake kata serial yaa kemungkinan besar post ini akan berlanjut ke seri selanjutnya, dan pada seri kali ini gw bakal beropini tentang kepemimpinan.

In the very beginning, pola pengajaran kepemimpinan yang diajarkan kepada anak2 sudah salah menurut gw. Sedari kecil kita dituntut harus bisa berbicara di depan umum. Dari jaman SD sampai lulus kuliah. Ga masalah memang berani berbicara di depan khalayak ramai. Yang jadi masalah buat gw, berbicara di depan umum ini tidak dibarengi dengan pengertian bahwa kita harus berbicara untuk kita sendiri, bukan atas orang lain. Karena cara setiap manusia dalam memandang dan berpendapat pastilah berbeda.

Alhasil, lahir lah generasi2 muda yang speak up. Mereka mampu berbicara untuk didengar, namun mereka tidak mampu mendengar. Generasi yang egois dan tak mampu memahami perasaan orang lain. Generasi yang memaksakan kehendak dan generasi ini yang akan memimpin dan melanjutkan tongkat estafet perkembangan Indonesia. Yakin sanggup?

Sedikit manusia yang sadar bahwa semakin banyak dirinya berbicara semakin sedikit dia mempunyai kesempatan untuk mendengar, mendengar suara selain suaranya sendiri tentunya. Dan semakin sedikit mendengar, maka semakin hati si manusia tadi mengeras dan membatu, lalu lahirlah manusia yang egois.

Lihatlah pemimpin2 sekarang ini di semua lapisan masyarakat. Mereka hanya mampu berkoar dan arogansi. Sekali pendapat ditentang, urat-urat kepala semburat mencuat. Yahh maklum lah, karena sedari kecil mereka diajarkan untuk berbicara bukan mendengar.

Lalu ada apa dengan mendengar? Yaa seharusnya sedari kecil para pemimpin harus diajarkan mendengar lebih banyak ketimbang berbicara.

Sedikit juga manusia yang sadar bahwa dengan semakin banyak mendengar semakin banyak kesempatan untuk mereka belajar bagaimana seharusnya berbicara. Dan semakin banyak mendengar maka semakin hidup hatinya, lunak dan bahkan bisa menjadi mata air dimana air selalu bergerak kebawah menunjukan pribadi yang rendah hati, dan seperti air yang bergerak, selalu mensucikan.

Selama hidup gw yg kurang lebih 1/3 masa hidupnya Rasul, bisa dihitung jari kesempatan gw untuk menjadi pemimpin, baik dalam berorganisasi maupun kepanitian. Berarti sedikit juga kesempatan gw untuk berbicara. Sedari kecil gw jarang didengar, semua pendapat yg gw kemukakan jarang banget diterima. Awalnya gw jadi minder karena ga mampu ngimbangin kemampuan teman2 dalam mengemukakan pendapat. Tapi dari situ akhirnya gw sadar, semakin gw ga didengar semakin banyak pula kesempatan gw untuk mendengar, dan kesempatan itu yg menjadikan hati dan jiwa kita besar. Penolakan, ketidaksetujuan, beda pendapat, beda pemahaman, dan atau sejenisnya bagi seseorang yg jarang didengar sungguh sebuah pembelajaran hidup dan moral, membuat pribadi berjiwa dan berhati besar menerima perbedaan. Kebesaran jiwa dan hati inilah yg tidak didapat pemimpin2 hari ini. Karena sedikitnya intensitas mendengar yg pemimpin2 masa ini miliki, perbedaan kecil pun pasti susah dan berat hati mereka terima. Padahal dunia ini dibangun dalam satu tujuan diatas berbagai macam perbedaan. 

Gw gak begitu suka dengan orang yang terlalu banyak ngomong tapi ga bisa mendengar (kebanyakan pemimpin nih yg gini). Atau sekalinya mendengar lantas berbeda dan malah arogan, egois. Tapi gw suka banget sama orang yang suka berbicara namun tetap rendah hati, tidak egois, dan humoris (pasti pelawak dalam profesi/ kehidupan). Sayangnya orang seperti mereka pasti tidak akan pernah mau menjadi pemimpin. Kenapa? Karena dunia ini terlalu indah untuk mendengar canda tawa ketimbang berbicara dengan amarah murka.





"the quieter you become the more you are able to hear". -Backtrack