Monday, March 12, 2012

Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan


Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini.
Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” kann yaa? :D ), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius :D
Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Broh”? :D ) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Broh sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para putera/i bangsa, yang lebih muda dari Mas Broh tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.
Mas Broh masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Broh datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani yang tenang dan damai lebih penting lagi. Karena itulah Mas Broh tidak pernah silau dengan harta.
Mas Broh tumbuh dan besar dalam keluarga yang mementingkan memperlakukan semua manusia dengan baik, tanpa memandang bulu. Mas Broh diajarkan untuk tidak boleh mencurigai mereka yang berbeda. Karena itu Mas Broh berteman baik dengan semua orang, tanpa memandang agama, suku, golongan. Dan Mas Broh menilai kebaikan seseorang dari aksi dan tindakannya, bukan karena label agama atau sukunya. Kalau seseorang baik kepada sesamanya, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, ya dia orang baik, tanpa embel-embel lain.
Saat Mas Broh memasuki dunia politik, dia tahu dia membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Mas Broh tidak punya modal pribadi yang besar. Selain itu, mencurahkan banyak uang di awal berisiko menciptakan mental “balik modal” seperti yang banyak dimiliki banyak politisi sekarang. Tetapi Mas Broh juga tahu bahwa “dukungan dana” dari “sponsor” dan “donatur” berisiko hutang budi yang jadi masalah di kemudian hari. Maka Mas Broh memikirkan beberapa alternatif lain yang lebih baik.
Pertama, Mas Broh berusaha mencari media murah untuk membuat masyarakat mengenalnya. Social Media termasuk media murah meriah, yang semakin mudah diakses dengan semakin murahnya ponsel yang bisa mengakses internet. Facebook dan Twitter membuat Mas Broh lebih mudah diakses, selain itu juga memudahkan dia mengamati “bercakap-cakap” dengan banyak anggota masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu menghabiskan biaya dinas!
Mas Broh tidak punya uang untuk membeli slot waktu di TV. Dan Mas Broh tidak punya stasiun TV untuk keperluan mempromosikan dirinya. Jadi dia memanfaatkan “tv gratis” yang namanya YouTube. Dia akan merekam dirinya sendiri untuk menjelaskan cita-cita dan visinya tentang Indonesia, masalah-masalah negeri yang akan menjadi fokus perhatiannya, dan ide-ide konkrit untuk memajukan bangsa melalui media ini. Dengan ini banyak orang yang bisa mendengar langsung rencana-rencana Mas Broh via komputer di rumah, kantor, ponsel pintar, ataupun Warnet.
Tetapi tentu saja pengguna social media dan internet hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Tetap saja dana besar masih diperlukan untuk menjangkau banyak rakyat melalui media konvensional – apa itu iklan TV, cetak, radio. Belum lagi dana-dana lain yang terkait dengan kampanye, dll. Mas Broh pun pusing karena kebutuhan untuk donor tak terhindarkan lagi.
Akhirnya Mas Broh memilih ide radikal untuk pendanaannya, yaitu TOTAL TRANSPARANSI dan PENDANAAN MASYARAKAT. Dalam pendanaan oleh masyarakat, Mas Broh terinspirasi dengan tim sukses Obama yang menggerakan dukungan dari setiap lapisan masyarakat, sedollarpun pun bermakna. Pendanaan masyarakat ini digabungkan dengan Total Transparansi. Siapapun yang menyumbang akan DIUMUMKAN TERBUKA di website Mas Broh, tanpa memandang bulu apakah itu perusahaan besar atau masyarakat kecil. Dengan cara ini Mas Broh hendak menunjukkan itikad  baik dalam bentuk akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat sepenuhnya. Karena tidak ada arus dana yang “tersembunyi”, tidak ada yang perlu ditakuti akan diobok-obok di kemudian hari.
Selain itu, karena transparan, Mas Broh mau menghindari godaan perusahaan besar yang mau menyumbang tapi “ada maunya” nanti. Karena diberitakan transparan, perusahaan hitam pikir-pikir dua kali untuk menyumbang secara berlebihan karena akan dibaca oleh masyarakat.
Mas Broh sadar dia tidak akan mampu bersaing melawan calon-calon politik lain yang sendirinya adalah pengusaha berkantong tebal, atau memiliki koneksi dengan pengusaha. Tapi Mas Broh sedari awal tidak mau terjebak dalam pikiran “harus dapat untung, minimal balik modal” jika berkuasa. Dan tentunya Mas Broh tidak mau berhutang budi pada sekelompok kecil orang.
Jika harus berhutang budi, Mas Broh memilih berhutang budi pada RAKYAT. Dengan cara ini dia tahu bahwa jika dia berkuasa itu karena rupiah dari rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kerja yang jujur dan berintegritas.
Walaupun tidak berharap banyak pada mulanya, cara Mas Broh yang ‘nyeleneh’ ini mendapatkan perhatian banyak orang. Mirip dengan “Koin Untuk Prita” yang menjadi bola salju bergulir besar, metode Mas Broh yang bergantung pada rupiah dari rakyat mendapat sambutan hangat. Rakyat dari berbagai lapisan bersedia mendukung kandidat yang mau perjalanan politiknya BERSIH DARI AWAL. Sesuatu yang diawali dengan bersih, semoga berujung baik pula, demikian logikanya. Setiap hari, di website Mas Broh bisa dilihat siapa saja yang sudah menyumbang Mas Broh, termasuk jumlahnya.
Dan memang benar, walaupun dana yang diraih Mas Broh masih kalah dibanding politisi-politisi lain yang berbeking pengusaha, tetapi Mas Broh lebih tenang hati nuraninya. Dan juga tidak ada hutang budi pada pihak tertentu selain rakyat kebanyakan.
Dalam mempersiapkan tokoh-tokoh yang kelak akan membantu Mas Broh dalam menjalankan amanahnya jika terpilih, Mas Broh memilih orang-orang berdasarkan kompetensinya. Bukan karena sama agamanya atau sama sukunya. Cara Mas Broh dibesarkan yang diharuskan tidak mendiskriminasi orang memungkinkan Mas Broh mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Dan dengan cara ini, Mas Broh bisa mengenali bakat-bakat terbaik dalam menjalankan negeri, tanpa memandang latar belakangnya. Yang penting memiliki panggilan tulus untuk mengabdi masyarakat, memiliki kompetensi di bidangnya, dan karakter yang baik, maka itu sudah cukup.
Mas Broh juga memutuskan untuk tidak melibatkan keluarganya dalam politik. Mas Broh sudah membuat persetujuan dengan anak2 dan istrinya bahwa selama dia masih memegang jabatan, mereka tidak boleh ikut dalam politik. Walaupun terkesan kejam, Mas Broh hanya ingin memastikan bahwa tidak ada “conflict of interest” antara keluarga dan profesional. Dan “perjanjian” dengan keluarga ini dibuat public, supaya masyarakat menjadi alat kontrol pertama untuk pelaksanaannya.
Seluruh awal perjalanan karir Mas Broh ini bisa disummarykan sebagai spirit AKUNTABILITAS PADA RAKYAT SEJAK AWAL. Menghindari hutang budi pada pengusaha, menghindari hutang finansial dari diri sendiri, semuanya supaya tidak jadi hantu di kemudian hari. Dialog dan program transparan menggunakan sosial media adalah cara murah meriah untuk menjadikan Mas Broh mudah ‘diakses’ orang awam….
Sekian dulu mimpi gw tentang Mas Broh si Pemimpin Impian dan cara-caranya mengawali karir politik….
Mungkin ada pembaca yang mau “menyumbang” mimpi bagaimana Mas Broh bisa menjadi pemimpin impian? :D