Friday, February 3, 2012

Sesumbarkah? Menyuarakan rencanakah? Atau berdiam dan bermimpi sendiri?

Bismillah.. Apa kabar sobh.. *mencoba gaul* 
Udah lama banget ga nulis nih. Eh nulis sih sebenernya sering cuman malah masuk ke draft karena ga ada waktu full buat nulis seharian sampe mata berkantung dikarenakan skripsi dan the last final exam. Oke, diam kalian! Bagian ini emang gw lebay aja. :Yb

Sebenernya nulis yang berkualitas itu harus didasarkan pengalaman yang bener2 dialami dan meninggalkan "sesuatu", sehingga sesuatu itu meninggalkan bekas yang bisa di tumpahkan ke dalam sebuah draft dan di generalisirkan menggunakan huruf yang membentuk kata lalu menjadi kalimat. Oke, skip!

Jadi di postingan kali ini gw cuma pengen cuap-cuap basah aja. Well oke, gw pengen bahas masalah yang menyangkut tentang tipe cara penyampaian yang antara lainnya ada sesumbar, menyuarakan rencana, atau berdiam dan bermimpi basah. Eh bukan, bermimpi sendiri maksudnya. Awalnya sii kenapa pengen nulis ini sekedar ingin menyuarakan pikiran aja supaya temen2 bisa bedain bahwa ketiganya berbeda.

Oke, just let's begin! :D

First, #Sesumbar!
Sesumbar itu adalah membual sobh. Yang pastinya kita *eh, gw aja maksudnya, kalo kalian ga tau bisa apa ga* ga bisa tau sesumbar yang sebenernya itu gimana? Apakah emang bernada sombong? Ataukah hanya emang terlihat too much aja sehingga terlihat sesumbar? Atau gimana juga ga tau. Yang pasti sii ada sebuah contoh dimana sesumbar itu terlihat. Dimana saat seseorang keukeuh akan sebuah idealismenya terhadap sesuatu dan idealismenya ini runtuh dan luntur karena variabel intervensi atau kita sebut aja pengaruh dari luar atau lingkungan.
Ribet, gini simplenya. Ada seseorang yang bilang gak akan pake Blackberry dikarenakan BB itu tidak baik untuk kesehatan, lingkungan, keluarga, cinta, dan sekitarnya. Pengaruh jangka pendeknya kalian bakal autis dan ketawa2 sendiri, pengaruh jangka panjangnya bakal "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat"! 

Lalu karena satu dan lain hal seseorang itu harus menggunakan BB karena kebutuhan sosial yang tinggi baik dari berhubungan dengan keluarga, sahabat, dosen, kerabat, dan ehem pacar. Nah inilah yang bisa dinamakan sesumbar karena awalnya seseorang itu ngebacot parah dengan idealismenya dia. Eat that!
But, sort case.. As you thought.. Actually this is kind of my lil own story.. hihi :p

Sekong, eh second.. #Aspirations or #StatedThePlan
Menyuarakan rencana. Menurut gw sih kriteria ini adalah  kriteria  yang lebih susah ketimbang sesumbar. Karena di satu waktu kalian harus bisa menyampaikan rencana kalian dengan tidak muluk2 dan realistis dan juga tidak lebay sehingga terlihat sesumbar dan jumawa.
Gw pribadi sii agak kesulitan untuk mengaplikasikan bagian ini. Sering gw mencoba menyampaikan rencana atau mimpi gw, tapi temen2 malah nangkepnya sesumbar. Haha..
Tapi buat gw pribadi sii menyuarakan rencana atau menyampaikan keinginan/ cita2 itu sih bagus. Kenapa?
Contoh, ada temen gw yang lagi deket sama gebetan tapi dia belum mau ngasitau siapa gebetan dia ini sebenernya. Dia bilang,

    "ntar aja wid kalo udah jadi baru deh di umumin ke temen2."
    "yahh.... Ga seru nih...." timpal gw
    "habis males kalo bilang2 duluan ntar kalo ga jadi gimana?" jawab doi
    "ntar kalo lo diem2 malah ga jadi lohh.." timpal gw lagi

Yaa kurang lebih yang kaya diatas inilah contohnya. Tapi ga terbatas dalam hal percintaan aja, namun semua aspek kehidupan.
Jadi dari contoh diatas kita bisa ambil hal baik dari menyuarakan rencana atau impian, yaitu kita mempunyai constraint dan malu. Constraint disini sebagai batasan atau rentang waktu pencapaian si rencana yang sudah disuarakan tadi. Sedangkan malu, kalian pasti malu dong kalo udah gembar-gembor terus ga tercapai.
Tapi bukan berarti kalian harus memaksakan diri juga untuk mencapainya. Selalu ada garis toleransi dalam hidup.
And those who scorn on you, they doesn't any courage to yell their dreams. Such as cowards.. :fuck2:

Third, #SelfDreamingAllTheWay!
Nah, ini bagian ter-madesu dalam hidup dan gak sedikit manusia yang hidup pada kriteria yang satu ini. Kalo mereka2 ini bukan cowards deh, soalnya mereka ga mentertawakan orang2 yg berani menyuarakan mimpinya. Mereka ini terlalu kuatir dan takut untuk share mimpi mereka ke orang2 terdekatnya. Tag-line mereka itu gini,

"ga mau ngomong ke orang banyak dulu ahh.. Takut ntar udah ngomong malah ga jadi.."

Nah itulah mereka. Dan udah 21 tahun gw hidup, jarang gw ketemu tipe orang yang hidup dalam kriteria ini yang akhir dari mimpinya itu sesuai dengan apa yang dari awal mereka impikan. Hal itu dikarenakan mereka menyimpan semua impiam mereka diam2 dan rapi dalam kotak musik yang berdebu. Dan karena mereka menyimpannya sendiri dan tidak ada orang yang tahu, maka tidak ada pula orang yang akan menjadi constraints dalam hal ini pengingat bagi si pemegang kriteria tersebut untuk memperjuangkan mimpinya..


Nahh.. Gw harap dari sini kalian semua bisa bedain yaa sobh diantara ketiganya dan bijak untuk me-manajemen impian kalian dengan menyampaikannya atau tidak.. :addfriends

Mimpi bila dinikmati sendiri adalah impian, tetapi jika dinikmati bersama adalah kenyataan. -Tukul Arwana

Well.. See you in the next post..
*ketjup basah* :genits


No comments: