Saturday, February 4, 2012

Syarat Lulus S-1, S-2, S-3: Harus Publikasi Karya Ilmiah


Just Re-blog :
Surat Edaran Dikti yang memuat ketentuan bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memuat karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Ketentuan ini berlaku bagi lulusan setelah Agustus 2012.


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.

Disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia. Apa saja bunyi ketentuan itu?

1. Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.
2. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah  
    nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti.
3. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal 
    internasional. 

Ketentuan ini berlaku mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kompas.com menghubungi Dirjen Dikti Djoko Santoso dan berjanji akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai ketentuan ini pada hari ini, Jumat (3/2/2012).

Beberapa waktu lalu terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah. Tak hanya karya ilmiah para mahasiswa, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri juga mengakui minimnya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.

"Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis," kata Eky kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.



Friday, February 3, 2012

Sesumbarkah? Menyuarakan rencanakah? Atau berdiam dan bermimpi sendiri?

Bismillah.. Apa kabar sobh.. *mencoba gaul* 
Udah lama banget ga nulis nih. Eh nulis sih sebenernya sering cuman malah masuk ke draft karena ga ada waktu full buat nulis seharian sampe mata berkantung dikarenakan skripsi dan the last final exam. Oke, diam kalian! Bagian ini emang gw lebay aja. :Yb

Sebenernya nulis yang berkualitas itu harus didasarkan pengalaman yang bener2 dialami dan meninggalkan "sesuatu", sehingga sesuatu itu meninggalkan bekas yang bisa di tumpahkan ke dalam sebuah draft dan di generalisirkan menggunakan huruf yang membentuk kata lalu menjadi kalimat. Oke, skip!

Jadi di postingan kali ini gw cuma pengen cuap-cuap basah aja. Well oke, gw pengen bahas masalah yang menyangkut tentang tipe cara penyampaian yang antara lainnya ada sesumbar, menyuarakan rencana, atau berdiam dan bermimpi basah. Eh bukan, bermimpi sendiri maksudnya. Awalnya sii kenapa pengen nulis ini sekedar ingin menyuarakan pikiran aja supaya temen2 bisa bedain bahwa ketiganya berbeda.

Oke, just let's begin! :D