Wednesday, December 21, 2011

“Emergent Systems” dan Kejombloan


Lagi asik baca buku “The Social Animal” karya David Brooks. Ini buku tentang human behaviors, yang dikemas menarik karena mengambil format “semi-fiksi”. Melalui perjalanan hidup tokoh fiktif “Harold” dan “Erica”, penulisnya merangkai berbagai hasil studi psikologi, neuroscience, social sciences untuk menjelaskan bagaimana manusia terbentuk oleh hubungan sosialnya.
Di buku ini gw ketemu konsep “Emergent System”. Sederhananya, emergent system adalah ketika elemen-elemen terpisah hadir dan berinteraksi bersama-samadan melahirkan suatu fenomena baru. Contoh: air, udara, angin adalah elemen-elemen yang masing-masing mempunyai perilakunya sendiri, tetapi ketika bergabung di saat dan kondisi yang tepat, bisa berubah menjadi topan badai.
“Emergent System” kelihatannya bukan ide luar biasa, tetapi ini relatif pendekatan baru dibandingkan pendekatan “reduksionisme”. Dalam sains Barat, tradisi upaya mengerti alam adalah dengan membongkar elemen-elemen sampai ke yang terkecil (to reduce). Kita mengerti atom, genetika, molekul, dan macam-macam “unit terkecil”. Dan memang pendekatan reduksionis efektif dalam mengerti banyak fenomena alam semesta.
Masalah mulai timbul ketika pendekatan ini dipakai untuk menjelaskan fenomena yang kompleks dan dinamis, misalnya perilaku manusia, budaya, atau masyarakat. Dalam “The Social Animal”, salah satu contoh reduksionisme adalah saat berusaha menjelaskan (dan memecahkan) masalah “kemiskinan” (poverty).

Monday, December 12, 2011

Bakar Diri, Solusikah?


Sondang Hutagalung, pelaku aksi Bakar diri kini berbaring di ruang Born Unit RSCM, Jakarta. Kamis (8/12/2011) Sondang Hutagalung nekat melakukan aksi bakar diri di Jalan Merdeka Barat, tepat di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (07/11/2011)
Saat upacara penghormatan kepada Sondang Hutagalung, Ketua Dewan Penyantun Universitas Bung Karno (UBK), Rizal Ramli, mengungkapkan Sondang memang mahasiswa cerdas dengan IPK 3,7.

"Sondang yang berasal dari keluarga sederhana, merupakan mahasiswa berprestasi. Ayahnya seorang sopir taksi, namun mampu meraih IPK 3,7," ujar Rizal, Minggu (11/12/2011) di UBK.
Rizal menuturkan apa yang dilakukan Sondang merupakanh sejarah baru di Indonesia. Dimana ada yang mengorbankan nyawanya demi tercapainya cita-cita perubahan di Indonesia. "Saya mewakili Dewan Penyantun dan keluarga besar UBK, sangat bangga mempunyai mahasiswa dengan semangat patriot luar biasa. Inilah Bung Karno muda," ucapnya.
Ditambahkannya, Sondang mendapat predikat patriot perubahan dari UBK. Menurutnya Sondang melakukan aksi bakar diri karena sesuai dorongan hati, saat kata-kata sudah tak lagi bisa menyentuh hati nurani para penguasa. "Jangan lupakan pengorbanan Sondang untuk Indonesia yang lebih jaya. Dia memilih jalan itu (bakar diri), karena kata-kata tak lagi didengarkan," imbuhnya. (Tribun News)
Sebelumnya gw turut bela-sungkawa atas kepergian Sondang.:berdukas Diatas adalah salah satu kutipan dari salah satu media massa yang cukup kompeten dan dapat dipercaya berita2nya.
Pada tau kan berita tentang bakar diri sondang ini?