Wednesday, August 10, 2011

Ketulusan vs. Hasil Akhir, Penting Mana?


Ebuset, produktif amat nih gw, sehari ngepost 2 biji!
Tapi emang kebetulan lagi ada topiknya siiih. Plus lagi sendirian aja. Ya why not.
Jadi beberapa hari yang lalu terjadi fenomena menarik di dunia Twitter. Di awali dengan kemunculan akun @gerychocolatos (tau kan, snack coklat dengan Nikita Willy sebagai bintang iklannya. Nggak senyebelin Sozis sih iklan2nya…) Merek produk punya akun Twitter sih sudah biasa, tetapi bedanya yang ini lahir dengan iming-iming “Kalau follow akun ini, Gery Chocolatos akan menyumbang Rp 100 per follower untuk baju lebaran anak jalanan.” Bahkan belakangan tawaran dinaikkan menjadi Rp 500 per follower!
Dan di dunia Twitter terbentuk dua kubu.
Satu kubu dengan semangat menyambut positif ide ini (di luar para buzzer berbayar tentunya). Hanya dengan memfollow sebuah akun, bisa ikutan menyumbang Rp 500 untuk anak jalanan! Gampang syaratnya, banyak manfaatnya. So why not?
Tapi ada kubu lain, yang lebih sangar dan galak-galak (hihihi), yang mengecam keras inisiatif ini. Serangan pertama adalah mengenai “ketulusan” menyumbang. Mereka menuduh bahwa sebuah merek produk komersial telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan follower, bahkan dengan memanfaatkan anak jalanan. Kalau memang pihak Gery Chocolatos perduli dengan anak jalanan, kenapa tidak menyumbang langsung? Kenapa harus dengan pamrih, melalui mekanisme “transaksi” menggaet follower?
Fenomena menarik ini sebenarnya menggambarkan dua cara berpikir yang terkadang bertentangan. Yang positif dengan ide ini menurut gw menggunakan cara berpikir pragmatis. “Lho, yang penting kan ada anak jalanan yang menerima bantuan? Perduli amat bahwa ini untuk menambah follower, toh tidak ada yang dirugikan?” Yang negatif tampaknya juga mementingkan faktor ketulusan, dan “hasil akhir” saja tidak cukup.
Gw termasuk yang mana? Seperti biasa gw juga bingung, hahaha :D . Bagaimanapun, ini bukan kasus yang hitam-putih, yang jelas mana yang salah dan mana yang benar (misalnya kasus rambut Saipul Jamil dicat kuning beberapa bulan yang lalu, itu sih JELAS SALAH.) Soalnya kenyataannya, toh memang ada kaum miskin yang menerima sedikit berkah di bulan Puasa, walaupun ketulusan si pemberi diragukan.
Dalam melihat masalah ini, gw juga mau menggunakan “kacamata ketiga” sebagai mantan mahasiswa marketing dan masih akan mempelajari strategi, yaitu kacamata marketing. Gw ngerti banget sih kenapa Gery perlu membangun cepat popularitas akun Twitter. Bagaimanapun fenomena social media, apalagi Twitter, tumbuh begitu pesat. Ini menjadi kesempatan channel marketing yang relatif murah (bahkan gratis!), apalagi untuk menjangkau kaum muda yang sudah gadget-friendly dan internet-friendly. Masalahnya membangun follower dalam jumlah besar dan dalam waktu cepat tentunya adalah tantangan. Dalam hal ini, Gery memanfaatkan momentum bulan Puasa dan mengkaitkannya dengan sumbangan/donasi.
Di sinilah problem bermula, yaitu ketika untuk membangun popularitas cepat ini menggunakan mekanisme “sumbangan”. “Sumbangan” adalah sebuah tindakan yang cukup serius dan kaya dimensi, bahkan bisa menyentuh dimensi spiritual dan religi. Salah satu dimensi sumbangan yang diajarkan kepada kita sejak kecil adalah “keikhlasan”. Sumbangan menjadi bermakna ketika pemberi tulus ikhlas ingin membantu, tanpa pamrih, tanpa agenda tambahan. (makanya istilah “sumbangan wajib” itu adalah oxymoron kelas dunia!)
Maka ketika sumbangan Gery dikaitkan dengan aspek komersial (jumlah follower dari akun Twitter), maka wajar banyak orang yang merasa konsep sumbangan ini sudah ternoda. Hasil akhir menjadi tidak berarti tanpa ketulusan.
Jadi apakah tindakan Gery “salah” atau “benar” secara marketing? Jawabannya tergantung berapa besar kubu pragmatis dan berapa besar kubu idealis. Kalau jumlah massa pragmatis jauh lebih besar dari para idealis yang ngomel2, ya bisa dianggap sukses aja kayaknya. Saat ini akun @gerychocolatos memiliki16 ribu lebih follower, tetapi gw gak tau berapa jumlah pertambahan persis karena “follow-nyumbang” ini. Tetapi kalau kubu idealis jumlahnya cukup besar dan lantang, maka risikonya bukan hanya citra sumbangan ini menjadi tercemar, tetapi juga citra brand Gery keseluruhan.
Di sisi lain lagi, seberapa pentingkah sebuah brand wafer coklat perlu image yang tulus dan lurus? Apakah saat kita mau ngemil wafer cokelat, kita akan mikir “Hmm, males ah makan Gery, soalnya gak tulus siih.” Kayaknya gak juga ya? :D
Sebenarnya di hari yang sama, ada iklan lain yang memiliki prinsip sama, tapi tidak banyak tersorot di dunia social media, mungkin karena berupa iklan di koran. Dua hari yang lalu kalau gw ga salah baca tanggal, di Kompas ada iklan dari bank Permata. Iklan ini menjanjikan bahwa nasabah tidak akan mengantri untuk teller lebih dari 8 menit. Bagaimana jika lebih dari 8 menit? Di sini lah ide absurdnya: Jika pelayanan lebih lambat dari 8 menit, maka pihak bank akan “menyumbang dana pendidikan.”
Reaksi gw pas ngeliat iklan ini? 3 detik pertama bengong. 2 detik kemudin membaca ulang. Sedetik kemudian ketawa ngakak.
Kenapa menurut gw ide ini absurd? Soalnya inisiatif menyumbang tidak hanya dihubungkan dengan aspek komersial, tetapi bahkan dengan aspek “pelayanan yang lamban.” Jadinya kan lucu: seandainya bank ini melakukan pelayanan yang baik (antrian < 8 menit), maka tidak ada sumbangan untuk anak miskin. Sumbangan baru akan diberikan jika bank ini memberikan pelayanan di bawah standar! Kalau gw jadi anak miskin, ya gw jadinya mendoakan bank ini terus-terusan memberikan pelayanan di bawah standar dong?
Sebenernya ini absurd beneran, atau gw aja yang aneh sih? :D
Gua jadi mau ikutan trend ini aah. Bagi setiap vote yang masuk untuk gw menjadi orang terganteng seantero bumi via Facebook, gw akan menyumbangkan senyuman gw yang termanis bagi mbak2 kasir/penjaga tiket tol/sales promotion girl. Yang cakep aja tapi! :D

3 comments:

Bayv said...

CSR juga ada unsur promosinya kok masbroh. Take and give-nya jelas, perusahaan ngasih bantuan sosial dan nerima image-positif* di mata masyarakat.

Kalo masalah tulus ga tulus ane ga ikutan dah. Lagian menurut ane tulus dan measurable (antara dana yang dikeluarkan dengan apa-yang-mereka-dapat) sama pentingnya kok.

Toh tuhan juga ngejanjiin pahala (direct/indirect) dari setiap kebaikan yang kita buat. Jadi gak ada salahnya kan kalo dengan manusia pun kita harus pamrih? CMIIW

*positif/negatifnya image yang terbentuk juga tergantung individunya sih

viniwidivici said...

benul-benul itulah CSR. tapi biasanya nih yaa, biasanya.. setau gw juga sii.. CSR itu memberi kan yaa terus dapat feed-back image. misalnya, "sumbangan pt.angin ribut kepada panti asuhan diam merana dalam memperingati hari sampah sedunia". memberi dulu baru dapat feed-back. nah kalo gerycoko ini beri aja belum udah minta (difollow) duluan..

have u remember the one i told you before in the past? kebaikan, berkah, dan pahala itu hak prerogatif Tuhan. benar Tuhan menjanjikan balasan atas setiap kebaikan. tapi ga ada urusannya sama manusia. kalo gak ada salahnya pamrih dengan manusia, 1000 tahun gw hidup gw ga bakal bisa bayar dan menggantikan apa yg ortu telah korbankan. dan kalo gak ada salahnya pamrih terhadap manusia, berarti tindakan para legisla-thieves, yudika-thieves, dan excecu-thieves itu benar dong.. hehe..

memberi tanpa harap kembali, feed-back itu bonus aja dari Tuhan.

Gery Chocolatos said...

Itu memang strategi pasar yang digunakan manajemen PT GarudaFood Putra Putri Jaya