Wednesday, August 3, 2011

Karimun Jawa - #SAKAU (Sakit Karena Engkau)

June 29th-July 1st, 2011

Shocking Moment!
Masih pada inget kan sebelumnya isu yang berkaitan dengan kuantitas angkutan kapal ferry Muria yang dibatasi hanya 250 kursi? Itu bukanlah isu. Semalam Iduy sempat stress karena sibuk mengurus tiket pulang rombongan. Dengan bantuan mas tuan Takur yang sudah sejak jam 11 malam hingga subuh jam 4 pagi mengantri tiket, Iduy bisa sedikit istirahat di-mana-gue-ga-tau. Gue yang sebelum subuh menyapa udah heran dengan movement tante yang bangunin anak-anak, sempat ngobrol dengan mas Takur.
      "Aku udah dari semalam mas nungguin di dermaga, ini sekarang bingung si Iduy ga ada. Dia cuman ngandelin aku ee mas, ini sekarang lagi di gantiin temen ngantri di dermaga..", suara mas Takur terdengar sedikit emosional.:mads
      "Lah de, mas Iduy ga tidur disini?", tanya pak Afif ke gue dan kebetulan beliau ketua RT.
      "Ga ada pak di dalam, biasanya sih dia tidur di sofa, tapi dari semalam pergi ga tau 
kemana, mungkin di mas Jambrong.." 
      "Ada nomor hapenya mas Iduy ga?", mas Takur nanya
Kebetulan gue ada dan langsung kasih nomor ke mas Takur, ga lama setelah dihubungi Iduy pun datang naik motor mio. Tante dan Dewi yang pagi itu sudah siap stildull langsung nge-tag motor mio yang dikendarai salah satu mba-mba pengurus homestay. Mereka langsung straight forward ke dermaga sambil membawa makanan bakal rombongan nanti.

Gue dan temen-temen yang udah siap langsung nyusul ke TKP. Disana udah ada Abenk yang tadi pergi bareng Iduy dan sedang gantiin Iduy buat antri tiket. Tante dan Dewi sudah masuk kedalam kapal ferry karena mereka datang sebelum ada penjaga, saat kami datang sudah ada penjaga. Didalam suatu cerita pemirsa, ditengah-tengah kepanikan, pasti ada saja karakter yang sedemikian rupa sehingga membuat salah satu atau semua rombongan  kuatir. Saat itu gue mikirin Husein yang bermasalah dengan perutnya. Ohh God..:capedes Orang ini.. Gue nobatin dia sebagai penjahat of the year setelah saat daytrip dia berhasil nangkap ikan didalam kresek. Dan pagi itu dia bermasalah dengan perut karena pola makannya yang ga manusiawi.

Tempat antrian sempat dipindah-pindah oleh pihak kapal. Sudah seperti tahanan saja para pengantri berjalan karena saling memegang pundak agar tidak kecolongan antrian. Dan setelah hampir empat jam mengantri, rombongan kami tidak mendapatkan tiket. Dengar-dengar hanya tiga orang antrian terdepan saja yang kebagian tiket. Sisanya? Gigit jari! :(


Bahkan ada penumpang yang sudah memegang tiket masih harus kesusahan mendapatkan tempat duduk karena didalam kapal sudah banyak orang yang duduk tanpa memiliki tiket. Ada keluarga bermata sipit Chinese yang tiba-tiba melompat pula ke pintu kapal dari samping dermaga. Berjam-jam sudah terlewat semenjak pintu kapal ditutup, tapi kapal tak kunjung berangkat karena tali sandar masih terikat di dermaga kapal. Mungkin pihak ABK takut melepas tali sandar karena banyak warga yang berada disekitar situ. Lapar sudah datang di perut teman-teman rombongan dan kami tidak bisa makan karena makanan sudah berada di dalam kapal bersama Tante dan Dewi. Alhasil sisa makanan yang belum terbawa dimakan bersama. Yaa sepiring berdua lahh yaa.. :ricebowl:

:ngakaksnikmat banget yaa dys?:Yb
Hari semakin panas dan kami pun pindah berteduh di balai yang merangkap kantin di dermaga besar. Lelah menaungi.. Ada yang main kartu, ada yang tertidur pulas. 
Dan setelah hampir tujuh jam akhirnya kurang lebih pada jam 10.44 kapal berlayar. Ga tau dah gimana ceritanya bisa berlayar kami pun sudah tidak peduli. Badan terasa remuk redam karena daytrip kedua, dan kurang istirahat karena harus mengejar antrian kapal pagi ini dan hell what? Kita ga kebagian tiket.. Indahnya! :berdukas



-pelajaran moral hari itu: ga punya tiket ga masalah asalkan punya duit-

A Failed Way To Back Home!
Banyak wacana terangkat kepermukaan setelah kepergian kapal. Ada yang menawarkan menyeberang ke Jepara dengan kapal rumah sakit tapi dengan harga yang ajegilee, ada yang mempunyai tawaran lebih murah, ahh tapi berdasarkan konsep "harga berbicara" yang gue pegang, gue yakin harga pasti sesuai dengan kualitas, and yess kapal yang mereka tawarkan adalah kapal kayu kecil seperti kapal yang kami pakai saat daytrip. Wajar kalo daytrip kami menggunakan kapal kecil karena memang jarak menyeberangnya tidak jauh. Lah ini gimana ceritanya nyeberang laut lepas dengan kapal kecil dan berisi rombongan yang berjumlah puluhan. Yaa kaleee.... :gila:


Akhirnya tour guide kami Iduy memberi opsi untuk menginap lagi di Karimun Jawa dengan mencari homestay yang lebih murah. Uangnya darimana? Secara disana tidak ada ATM (Automatic Machine Teller) atau bank, dan gue yakin warganya masih nyimpen duit mereka di celengan babi warna pink :babi: atau di bawah bantal. Duit di dompet hanya tinggal satu lembar berwarna biru dan beberapa duit logam yang buat beli permen aja ga cukup. Gue yakin kondisi temen-temen juga ga jauh beda. Iduy menggunakan duit bakal transport Jepara-Bandung untuk biaya homestay dan dengan kata lain kami harus menyiapkan biaya tambahan transport untuk balik ke Bandung. Well yess lebih baik seperti itu daripada harus menyeberang ke Jepara di tengah malam. Maaf belum sempet bilang kalau dua tawaran kapal di atas bakal berlayar di malam hari. Gue dan rombongan belum siap aja kalo tiba-tiba harus tenggelam bagaikan Titanic di gelap dan dinginnya laut malam lalu bertemu ikan dengan lampion di kepalanya dan jebakan tikus di mulutnya.:takuts Hell, gue masih single!


After effect, found another homestay.
Jam dua belas kurang sudah. Akhirnya dapat homestay dengan harga yang cukup bersaing. Kalau ga salah empunya rumah masih saudaraan deh sama mas tuan Takur. Namanya mas Rifa'i. Kami sudah seperti TKI saja naik mobil pick-up berdesak-desakan dengan wajah kucel karena lelah yang diderita. Gue udah berasa di film Sang Pemimpi aja nih, tapi sayangnya ini bukan mimpi.
Di homestay ini sih emank lebih luas, kamar lebih banyak. Tapi tetep aja gue lebih milih tidur di ruang tengah. Walaupun tidaaa ada kasur, namun tidur di lantai bertehel dicuaca yang ga santai adalah surga buat gue dan Okke tentunya. Daripada naik kasur dan langsung roboh -kelakuan kakak beradik Abenk dan Adit-.:ngakaksYang lain langsung nge-tag kamar masing-masing dan Alhamdulillah mereka langsung terlelap pulas. Karena kamarnya rata-rata gelap, itu menjadi alasan gue kenapa ga tidur di dalam. In case gue-takut-tidur-dikegelapan. Gue yang tertidur sambil menyandar di dinding menjadi manusia pertama yang terbangun dan melihat temen-temen yang tertidur pulas. Aduh lucu rasanya kalo denger paduan suara temen-temen yang lagi tidur. Semuanya mendengkur! :siul:


Pengen pipis dan ke toilet sambil nyanyi-nyanyi dan terus mencari dimana letak toilet berada. Toiletnya jauh berlika-liku laki-laki berada di belakang rumah dan saat sampai langsung gini nih :bingungsOne word, "ajaib". Toilet ini tidak memiliki engsel pintu, jadi kalo mau menggunakan toilet, kita harus memasang pintunya atau lebih tepatnya meletakan pintunya pada kusen pintu. Tapi yakinlah, sekali #senggol juga bakal jatuh tuh pintunya.
      "Ehh wid, ternyata ada dua opsi buat pintunya. Bisa pasang pintu sengnya, bisa juga ditutup kain yang berwarna hijau itu..", otak cerdas seorang Okke.:addfriends


Closer with friends.
I called this -too quick to conclude- state. Salah satu kesalahan ter-lumrah seorang manusia. Terlalu cepat menyimpulkan. Gue pikir malam daytrip kedua adalah malam terhangat rombongan. I'm totally wrong! Inilah malam terhangat kami selama di Karimun Jawa. Gue pernah denger istilah ini, "problem uniting the diversity". Keadaan dimana masalah bisa menyatukan perbedaan, dan dalam kasus ini masalah kami adalah ga bisa pulang.


makan pindang serani bareng
bercengkrama bersama rombongan

Main polisi-polisian. Dan akhirnya mau ga mau gue terjerumus juga ke game galau ini. Abenk yang terlalu agresif mengedipkan matanya :kissing:. Vira yang terlalu dini hengkang dari dunia persilatan. Henggar yang diem dan tiba-tiba, "lo penjahat yaa wid?" :armys. Mama Eva yang super ga jelas dan ga peka. Bersatu gue dan Okke ngedipin mama Eva :mahos, eh malah tiduran pake sarung :nohope:. Papa Saud sang muka kriminalis. Husein si manusia alibi, liat hapee terusss. Adit si muka curigaan :metal:. Dan terakhir Gladys si The Less Sensitive Woman. Di kedipin juga ga bakal sadar nih anak :malusNas klee..





yang kalah pada dicoret mukanya, gue dan Abenk jawaranya :mahos


Tour Darat.
Semestinya tour darat ini dilakukan kemarin saat sampai di homestay mas Rifa'i. Tapi apa daya melihat anak-anak yang langsung tewas, tour ini pun dibatalkan dan diganti di pagi ini. Subuh-subuh sekali kami dibawa mas Rifa'i ke pantai Nirwana. Pantai Nirwana ini sebenernya privat beach sebuah resort yang ada disitu. Tapi entah kenapa jadi terbuka untuk umum. Inilah pantai untuk menikmati sunrise, namun sayang sekali cuaca saat itu mendung :rain:. Sedih sih, tapi tetep bagus kog pantainya.


pantai nirwana
diatas resort di pantai nirwana


Setelah makan siang dan mencicipi sate ikan, kami para rombongan berbincang-bincang dan berdiskusi dan akhirnya memutuskan setibanya di Jepara kami tidak langsung balik ke Bandung, kami lebih memutuskan untuk pulang ke Bandung via Semarang. Yaa, Semarang.. Sebuah kota besar yang indah nan rupawan pada siangnya, bukan malamnya. Klee..


Night Escape.
Sore itu gue duduk-duduk di luar bareng mama Eva dan entah kenapa saat sibuk dengan hapenya dia langsung berucap
      "SAKAU - Sakit Karena Engkau"
Gue ga tau kenapa tiba-tiba dia ngomong itu tapi itulah awal mula kata SAKAU membumi di seantero Karimun Jawa. Gue bareng Utha, Henggar, dan Fanisa main ke alun-alun. Yahh karena kami pikir mungkin ini bakal jadi kali terakhir kami main-main kesini. Disana sudah ada Abenk, Adit, Okke, Olive, dan Gladys yang sudah berada disana karena sebelumnya mereka gowes. Rencananya pengen makan tongseng kepiting nih. Ahh tapi tongseng kepiting yang gue dambakan melayang ditangan Gladys dan Adit, karena dalam sekali jual kedai tersebut hanya menyediakan dua porsi tongseng kepiting. Kenapa hanya dua porsi? Perlu kalian tahu kalau di Karimun Jawa memang berlimpah ikan segar, tapi tidak untuk kepiting. Gue pernah dikasitau mas Yitno kalau perairan Karimun Jawa memang tidak cocok untuk kepiting karena berarus deras. Kepiting kan sukanya santai kaya di pantai. :cendols


Balik ke homestay yang lain sudah pada sibuk packing. Rencananya ba'da Isya rombongan sudah harus berangkat lagi karena seperti biasa harus ngantri lagi. Tapi jadinya malah molor dan buat rombongan yang belum sempat makan diberi kesempatan untuk makan dulu. Gue, mama Eva, papa Saud, Okke, dan Adit bergegas ke alun-alun. Ternyata sore tadi bukan kali terakhir gue ke alun-alun. Disepanjang perjalanan,
      "Aihh.. Bener-bener yaa.. Liat deh ke langit, ada rasi bintang layang-layang pas di 
depan kita tuh, sama rasi bintang scorpio.." gue sambil nunjuk ke langit
      "Hahaha, si Widi mulai galau dia mah.." papa Saud menyambar
      "Ciyeiy Widii.. Kenapa dengan bintang wid, kenapa? Dia lagi jauh? Sapose? Katakan aja 
katakan.." mama Eva frontal
      "Ga apa mama, di bintang itu ada dia.." bermain di posisi aman
      "Yaudah sii, 'Pacar orang adalah pacar kita yang tertunda' hahaha.. :cool:" kata bijak 
dari Okke, dan sepertinya dia berhasil mempraktekkannya. haha..


nasgor sepiring berdua sama Okke :malus
Kami yang udah kelar makan bergegas ke homestay dan langsung berangkat ke dermaga besar. Sesampainya disana sudah ramai aja donk. Semua orang terlihat resah dan gelisah. Berbeda dengan rombongan kami. Rombongan sakit yang malah main hipnotis-hipnotisan ala Uya Kuya.
--> Okke as Uya
     Imam as pihak penderita
     Vani as pacar pihak penderita


      "Cukup fokus dan dengarkan suara saya, hanya suara saya, sekali lagi hanya suara saya, mengerti?" Okke memulai aksi
      "Mengerti mas.." Imam udah pasrah
      "Perhatikan bandul ini, ikuti arah geraknya, dan anda akan merasakan lemas, dan mulai
mengantuk, terlelap, dan lebih lelap.." oke, bagian ini gue lupa gimana si Okke hipnotis Imam. Yang pasti gue ga liat ada tissu yang di bakar jadi gue milih bandul aja deh.
      "Oke saya panggil mas atau kang nih? Kang aja ya karena orang sunda walaupun blasteran batak. Ini yang disebelah anda siapanya anda nih? Pacar? Teman? Atau?" tanya Okke as Kuya.
      "Dia pacar saya mas.." jawab dengan pasrah
      "Sudah berapa lama dengan siapa? Vani yaa? Apakah anda bahagia?"
      "Yaa sudah cukup lama mas, yaa mau gimana mas.. Bahagia lahh.."


Orang-orang disekitar yang awalnya resah dan gelisah akhirnya cukup terhibur dengan candaan anak-anak sakit ini. Sekali lagi, Nas Kleeee..
Ada seorang ibu yang nahan ketawa karena kelakuan sakit rombongan ini. Ya, memang dalam menghadapi masalah kita jangan terlalu terpaku pada masalah itu sehingga kita tidak peka pada berbagai solusi dan hal indah di sekitar kita. At least dalam hidup bila tidak bisa menjadi solusi, jadilah a way that bring a smile to others, jika tetap ga bisa jangan nyusahin orang lain. :angel:


Berjam-jam menunggu di dekat portal dermaga, tiba-tiba berdatangan orang-orang dengan seragam dinas berwarna biru tua :army:. Ya gue rasa mereka dari pihak dinas perhubungan laut sini. Jadi malam ini adalah giliran naik bagi penumpang yang mestinya di tanggal 29 Juni pagi sudah bisa menyeberang namun tidak mendapatkan tempat. Jadi penumpang yang rencana balik ke Jepara tanggal 31 Juni tidak diperbolehkan untuk menaiki kapal, mereka harus menunggu hingga besok malam. Pihak dermaga sengaja membatasi kuota penumpang agar pemerintah mau menurunkan satu lagi kapal ferry sebagai sarana transportasi bagi warga Karimun Jawa. Warga Karimun Jawa hampir tidak bisa menggunkan sarana transportasi ini karena kapal ferry selalu ditumpangi oleh para backpacker dan tourist seperti kami. Sedangkan warga sangat membutuhkan transportasi untuk berbagai keperluan mereka, seperti kerja, membeli keperluan yang tidak ada di pulau Karimun Jawa, keperluan medis, dan membeli bahan bakar. Perlu kalian tahu, di Karimun Jawa ini hanya ada satu pom bensin dan itu hanya fatamorgana semata! Kata Iduy, pom bensin itu sudah lama tidak beroperasi. Jadi bila warga ingin membeli bahan bakar, mereka harus ke Jepara dan bagi yang berada di pulau Karimun Jawa hanya bisa membeli bahan bakar eceran. Bener-bener sempurna mah ini kalo katanya Demi*an. :nohope:


Hal yang paling mengenaskan adalah saat pihak dinas perhubungan laut berteriak-teriak memanggil nama atau nama rombongan untuk masuk ke dalam kapal. Udah kaya kebakaran jenggot aja mereka ini, sampai marah-marah segala dan teriak-teriak :kagets:. Seperti yang gue bilang sebelumnya, hanya yang dipanggil yang berhak masuk dan yang dipanggil tersebut yang terlambat dihari sebelumnya dan sudah terdata di dinas perhubungan laut tersebut. Ini sudah berasa di ospek lagi pemirsa, satu rombongan saling menaruh tangannya di pundak temannya seperti ular naga panjangnya yang bukan kepalang itu.


Breaking News




Usai dihitung layaknya narapidana dan telah melewati portal hidup dan mati itu -hidup kalo bisa nyeberang ke jepara, mati karena tidak ada duit tersisa di dompet bahkan untuk beli permen- rasanya bahagia banget bisa pulang. Bahaaaaagiaaaaa bangggeeeeuuudddd!
Tapi kami masih harus bergegas untuk tag kursi.


The Beginning of CINLOK.
Semua anggota rombongan sudah dapat kursi masing-masing dan semuanya semakin menjdi lega buat gue, tapi hanya untuk beberapa jam kedepan. Gue, Gladys, Olive, Okke, Shendy, Adit duduk di garda terdepan tapi tak berselang lama Adit pindah ke belakang bareng gue bareng Hussein. Dibelakangnya lagi ada Iduy, Abenk, dan Ripo. Dibelakang mereka ada Tiara, Reza, dan Farhan. Tepat disamping gue namun dibatasi lorong ada Fanisa, Henggar, Utha, papa Saud, dan mama Eva yang udah tidur melipir di lantai di antara kursi-kursi :eek:. Kagum gue sama mama Eva. Dengan badannya yang umm agak besar dia mampu menciptakan state yang gue sebut "wherever I am, I can sleep anywhere, FORMIDABLE!".  Dibelakang mereka ada Mia dan Ridho, Imam dan Vani yang berpasang-pasangan dan Vira yang berada terluar didekat lorong. Ohh iyaa Junar, gue ga liat Junar ada dimana waktu itu di dalam kapal. Maaf Jun, bukan maksud hati.




Sekejap saja, rombongan langsung tewas. Quarter pertama masih pada manis-manis bobonya, masih pada duduk rapi silang tangan di perut dan menunduk layaknya mengheningkan cipta -pose duduk manis-. 



Quarter kedua udah ada yang mulai gelisah karena kursinya emank ga suitable buat tidur. Adit dan Hussein yang begitu terobsesi dengan loteng kapal semenjak awal kedatangan akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke loteng.
      "Dit, kemana?" gue tanya 

      "Mau tidur diatas aja nih sama Hussein. Mau ikut ga? Tidur sambil liat bintang-bintang 
kan keren juga kali yaa.." cara berfikir yang jiwa muda sekayee
      "Ayoo wid! Asik pasti, banyak angin.. Disini panas lahh.." kalo udah penjahat of the 
year yang ngasih ide agak parno juga
      "Engga deh, kaliann ajaa yaa.." sambil melirik kearah Gladys
Sebenernya sih pengen ke atas juga, tapi bukan buat tidur melainkan melihat bintang. Lagi-lagi pembicaraannya mengarah ke bintang. Cukup! Lagi juga ga enak kalo harus membangunkan the less sensitive woman.
Ga lama kemudian,
      "Lah dit sein, kog udah pada turun aja?"
      "Sial lah lagi nyenyak-nyenyaknya tiba-tiba hujan.." Hussein ketus
Mau ketawa sumpah, ide mereka memang cemerlang, tapi ini laut lepas kakaa. Jangan bermain petak umpet dengan alam. :ngakaks


Quarter ketiga, udah ga ada yang beres tidurnya. Udah ga ada yang peduli tidur dimana yang penting nyaman. Nengok kesebelah kiri, papa Saud hilang. Ahh, ketiduran sedikit aja udah banyak yang berubah. Ternyata si papa Saud pindah tidur dibawah bareng mama Eva. Iyaa, yang gue maksud dibawah ini adalah kolong antara baris kursi yang di depan dan baris kursi yang mereka duduki. Seyogyanya itu adalah tempat untuk kaki bersolonjor dan kursi diatas adalah tempat untuk duduk. Tapi sudahlah, mereka nyaman dan saling berpelukan. Sweet banget :malus. Mereka paus naik pangkat, dari terdampar di samping kapal -liat blog sebelumnya- sekarang terdampar di kolong kursi kapal.


Utha lah yang merajai bekas kursi papa Saud. Fanisa juga udah pindah kebawah kalo ga salah. Namun henggar tetep dalam pose duduk manisnya. Melihat sedikit kebawah langsung tersedak, Hussein sudah merajai lorong dan pastinya bareng mate-nya si Adit yang sedikit memimpin lebih di depan lorong. Pengen gerakin kaki kann yaa karena pegel, tapi kenapa berasa berat? Ohh my, si Oliv selonjoran tepat dibawah kaki gue, untung aja ga keinjek. Gladys udah ga tau nih mimpi apa dalam pangkuan, sampe ngiler gini :berbusa:. Mungkin udah ke Bandung. Okke dan Shendy masih sama seperti Henggar dalam pose duduk manis.


Liat kebelakang, Abenk udah ga ada dah ga tau kemana. Iduy malang melintang di atas kursi-kursi. Ripo juga gue ga liat. Tapi yang pasti Tiara, Reza, Mia, Ridho, Imam dan Vani masih tidur mesra dan saling berpegangan tangan. Vira berada di sudut yang susah dilihat jadi ga tau pose dia gimana. -Junar, maaf yaa.. Gue tetep aja ga liat lo tidur dimana.- :bingungs


Okke yang udah kehilangan gaya manisnya :ngakaks
Quarter keempat, inilah klimaks. Semua udah pada ileran, baik yang tidur dengan pose duduk manis, pose paus terdampar, pose apapun dah. Paha gue juga udah mulai terasa basah inih -no mention-. Paduan suara alunan surga bergema dimana-mana (baca: ngorok). Malam itu gue emank agak susah tidur, karena gue takut tidur saat sedang dalam perjalanan. Gue takut aja pas lagi di perjalanan dan tiba-tiba terbangun eh udah ngeliat tubuh kita sendiri.




Pagi menyambut, terlihat para penumpang sibuk mengusap iler mereka yang berceceran dimana-mana. Yang wanita sibuk menata rambut dan melihat mata. Lagu-lagu SO7 dan movie gokil yang nemenin malam gue pasti tidak akan terlupakan. Dan yang bikin kaget sih, Oliv yang tadinya slept right in front of me, eh udah pindah aja dipelukan masbro Okke. Ett dahhh bangeudd lah pokoknya.. :kisss


Good bye Karimun Jawa, Good Bye ferry Muria, you made us #SAKAU - Sakit Karena Engkau.. And Jepara.. Here we go.. We were landing finally.. And we will go to the land of troublesome..




Travelling -
It gives you home in thousand strange places, then leaves you a stranger in your own land. -Ibn Batuta









No comments: