Sunday, August 7, 2011

Garuda Di Dadaku, Bendera Malaysia Di Tanah Airku


Kemarin ada berita agak mengejutkan di TV. Seorang kepala desa (Desa Mungguk Gelombang) di Kalimantan Barat yang tinggal di perbatasan mengancam akan mengibarkan bendera Malaysia. Alasannya: pemerintah pusat tidak memperhatikan nasib mereka. Jalan darat penghubung ke kota yang penting untuk penghidupan mereka sudah lama rusak berat. Selain itu, pemerintah Malaysia sering memberikan bantuan dan rayuan manis manja (halah…), sampai membangun sarana air bersih bagi mereka.
Mungkin dulu saat lebih muda (uhuk), gw akan cepat marah terhadap ancaman kepala desa itu. “APA? PENGKHIANAT! KIRIMKAN PESAWAT TEMPUR, TANK, & IVAN GUNAWAN UNTUK MENUMPAS MAKAR!!” Tetapi sekarang, gw mencoba melihat masalah ini tidak secara hitam-putih lagi.
Jangan salah, gw tetap fanatik NKRI walaupun gw udah apatis banget sama pemerintahnya:capedes. Menurut gw Indonesia ini negara besar dan kaya, yang kalau bersatu dan dijalankan oleh pemerintah yang ‘bener’ bisa menjadi kekuatan ekonomi besar di regional Asia Tenggara. Dan gw mencintai negeri tempat gw dilahirkan ini. :iloveindonesias
Hanya saja dalam kasus Kepala Desa Mungguk Gelombang di atas, gw mencoba empati dengan situasi yang dihadapi. Kalau gw di posisi mereka, di mana gw jarang (atau bahkan tidak pernah) merasakan perhatian atau pembangunan dari pemerintah, maka wajar gw bertanya, “Buat apa pemerintah?” Apalagi ada pemerintah “lain” yang memberikan bujuk rayu manis, semanis Upin & Ipin (dengan asumsi Upin & Ipin bisa dibilang manis. Gw bilang sih kayak oversized Tuyul. Dan kenapa juga pembahasan jadi melenceng ke sini….)


Dan gw jadi memikirkan ulang konsep “Nasionalisme”. Nasionalisme, dalam perspektif sempit, seringkali diartikan sebagai “cinta satu arah seorang warga negara kepada negerinya”. Menjadi nasionalis artinya cinta negeri habis-habisan, Garuda di dadaku, harga mati! Dan pengertian sempit ini, walaupun tidak salah sepenuhnya, tetapi memberikan gambaran yang satu dimensi, tentang realita yang multi-dimensi dan kompleks.

Kalau kita mengakui bahwa warga negara adalah manusia, yang bisa lapar, punya cita-cita, punya mimpi, dan keinginan sendiri, maka dengan sendirinya “nasionalisme” tidak bisa disempitkan menjadi satu arah. Ada dimensi “relationship” antara seseorang dengan negerinya. Dan relationship bersifat dua arah. Wajar kalau setiap warga negara harus setia dan mencintai negerinya. Tetapi wajar juga bahwa warga negara adalah manusia, yang mau makan, yang mau hidup dengan layak, yang mau mencari uang, yang mau menikah dan menafkahi keluarganya, dan sejuta kebutuhan manusiawinya. Dan ketika mereka merasa bahwa “negara” yang dijalankan “pemerintah” dirasakan tidak memberikan apa-apa, maka sangat sulit mempertahankan rasa cinta itu tentunya.
Kemarin ada twit menarik yang mengkomentari konflik aparat dan warga di Papua, dan munculnya isu referendum. Gw lupa siapa yang ngetwit, tapi analoginya tentang situasi di Papua juga berbentuk relationship: “Mending mana, menikah dan dipukulin terus. Atau mending cerai dan cari nafkah sendiri?”
Dan sebenarnya masalah “nasionalisme” punya versi lain yang tidak sedramatis bendera Upin & Ipin atau referendum. Ambil contoh atlit bulutangkis nasional yang menjadi pelatih timnas negara lain. Atau ilmuwan-ilmuwan brilyan yang akhirnya mengabdi bagi pemerintah negeri lain, menghasilkan temuan-temuan penting yang bernilai tinggi bagi rakyat negeri lain. Bagi mereka, sulit mencari nafkah di negeri ini, ketika talenta dan otak mereka tidak dihargai memadai, sementara mereka perlu menghidupi anak istri (OMAYGAT HARUS YA KALIMAT GW BERIMA GITU! UDAH KAYAK CATATAN NAJWA! -__-) Maksud gw, apakah kita tega menghujat mereka sebagai “tidak nasionalis”? Gw sih nggak :matabelo:
Dan negara-negara lain pun sudah menyadari hal ini. Dan sah-sah saja mereka mencoba merayu sumber daya kita. Singapura secara terang-terangan memperlakukan dengan baik siswa-siswa Indonesia yang cemerlang, diberikan beasiswa, bahkan dipermudah jika ingin bekerja di sana. Australia beberapa tahun yang lalu pernah terang-terangan menyatakan bahwa mereka mengincar SDM cerdas dari Asia untuk mau tinggal berkarya di sana.
Nasionalisme menurut gw, seperti relationship, tidak boleh ‘taken for granted’. Sama seperti suami/istri tidak boleh men-take for granted pasangannya mentang-mentang “sudah menikah”, terus seenaknya dikasari/diasemin terus. Rasanya menjadi salah juga ketika negara menagih “nasionalisme” bagaikan hutang abadi rakyat, sementara negara tidak memberikan apa-apa sebagai gantinya. Dan juga tidak heran kalau keinginan “selingkuh” mulai timbul ketika kecintaan pada negara dianggap sebagai satu arah dan di-abuse.
Kalau “nasionalisme” bukan sekedar kewajiban satu arah, maka “nasionalisme” pun harusnya BISA DITAGIH dari pemerintah. Pemerintah yang lalai, abai, (dan lebai – seperti sekarang?), yang merampok sumber daya alam, yang gagal menyediakan pembangunan sampai ke pelosok, yang mengkorupsi uang rakyat, yang gagal melindungi kelompok minoritas, yang menindas yang lemah, pemerintah ini bisa juga disebut “tidak nasionalis”. Iya nggak? 
“Nasionalisme” yang naif, mungkin hanyalah sembako murah bagi penduduk Pulau Jawa dan Bali, yang relatif menikmati pembangunan yang pesat, dengan mall mall menjamur di kota-kota besar, dan jalan-jalan yang memadai. Tetapi bagi Kepala Desa Mungguk Gelombang atau mungkin bagi seluruh penduduk Kalimantan, nasionalisme mungkin menjadi barang mewah yang tak terjangkau….
Dan tiba-tiba, Nasionalisme tidak menjadi barang “hitam-putih” lagi.
Dan seperti biasa, gw tetep pusing sendiri… :bingungs






7 comments:

wirya said...

Nasionalisme, berkaca dari kehidupan, coba tengok seberapa banyak orang Indonesia yang berada di Malaysia, baik itu bekerja pada sektor formal dan informal, baik itu legal maupun ilegal. Bahkan sampai ada yang lebih memilih menghabisakan masa tuanya di negeri seberang

Masih belum terlambat untuk menyelamatkan Negeri kita, masih ada seribu harapan dari generasi muda

*Komentar sotoy, sok bijak dan sok teu

dira said...

sans lahh, ga sendirian kok.
saya juga suka pusing sendiri jadinya kalo mikirin nasionalisme. @_@

teman saya yang jd researcher di indo meng-encourage temannya yg sesama orang indo tp jadi researcher di luar negeri untuk ‘Jangan Pulang karena super-duper-ribet untuk research di indo’ *ya ngerti sih si memang ada bau-bau curhat di balik himbauan teman saya itu*. Tapi gimana si temannya yang di luar negeri itu mau berbakti untuk Indonesia kalau dpt himbauan seperti itu dari sesama teman sejawatnya…

ya gitulah..

pL said...

berdasarkan pengalaman pribadi, bnyk bgt tmn2 yg berprofesi di bid seni mesti loncat jauh ke negeri lain dgn alasan minimnya fasilitas maupun dukungan pemerintah terhadap bidang ini. pdhl di luar sana tmn2 juga salah satunya berkarya memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia luar.
Alasan mereka menetap di luar cuma satu, mereka merasa setiap karyanya sangat dihargai disana dibanding di negeri sendiri.

trullyverr said...

gw kalo ditanya ttg nasionalisme jujur gw jadi bingung….

gw sedih, patah hatiiii bgt ninggalin indonesia, tapi kalo inget dulu.. gw gak sanggup kasih pendidikan yg terbaik buat anak2 gw*karena pendidikan udh jd industri di indo* gw lega disini (NZ) …pemerintah mrk lbh ngehargain para pembayar pajaknya, ya salah satunya anak2 gw bisa sekolah yg layak bgt..nyaris minim biaya

duh asli, gw kadang suka mikir, betapa oportunis nya gw, cinta indonesia tapi tetep cari”selamet”*lagian selamet dicari2..kemana aja sih tu anak,- lah kok melenceng*

yaelah knp jd panjang….*sory ya bukan mksd curhat* cm gw jg ikutan bingung kl ngmngin nasionalisme dlm posisi gw…

viniwidivici said...

Wirya: Setuju dengan optimisme-nya. Dan ga papa sotoy. Mending sotoy dan sok bijak daripada korupsi. Lagi juga sotoy gratis kan? :D

Dira: soalnya nasionalisme yang di awang-awang itu harus berbenturan dengan realita pekerjaan dan nafkah sehari-hari ya :(

Trullyverr: you are just being human, yang punya harapan dan cita2 buat anak2 elu. Ada jutaan orang kayak elu kali )

Blog Keluarga Info said...

Ibarat cinta,,, nasionalisme adalah cinta. Ada kondisi dimana cinta tidak harus memiliki. Inilah yang dikondisikan dengan nasionalisme beberapa dari kita. Kita masih cinta terhadap tanah air,, tetapi tetap untuk mencari rejeki bisa dimana aja, termasuk negeri orangkan....

viniwidivici said...

iyap.. selamat mencari nafkah dan terus mencintai negeri kita indonesia.. beri sumbanganya nyata donk.. hehe :)