Sunday, August 7, 2011

Tiga Fase Utama Romansa


Karena sekarang gue mau berbagi salah satu pengetahuan terpenting dalam percintaan.
Ini FAKTA yang gue dan beberapa teman gue analisa dari total ratusan kasus pribadi.

Yaitu bahwa setiap kasus percintaan atau romansa itu terdiri dari TIGA BUAH FASE utama.
Pengetahuan ini krusial banget, karena bisa mengubah Pola Pikir dan Pola Aksi kalian secara total!

Orang selalu berfikir kalau mau punya hubungan cinta, ya harus bersikap manis dan romantis dari awal.
Ada juga yang menunjukkan gaya mapan dan gentleman supaya gebetannya jadi kepincut.
Ada yang coba bersikap sok idaman, kalem, penyayang dan serba perhatian.
Kalian pasti sering melakukan hal-hal begitu 'kan...

Nah apa yang terjadi kemudian?


Kalau kebetulan dia suka sama elu, hasilnya sih baik.
Dia jadi rajin membalas semua perhatian dan kebaikan yang lu beri.
Lalu setelah sekian lama, akhirnya lu dan dia jadian.

Tapi ayo jujur, kenyataannya jarang ada yang berjalan semulus itu, 'kan?

Kejadian tipikalnya adalah dari awal perkenalan, lu bersikap manis, romantis, dsb.
Dianya senang dapat teman baru, jadi dia merespon dengan baik dan bersahabat.
Seiring waktu, karena merasa dapat angin, lu coba tambah intensitas sikap-sikap seperti itu.
Nah di sini, biasanya si dia mulai hilang dari peredaran atau agak jarang memberi respon positif.

Itu terjadi karena sang gebetan memang tidak suka dengan elu dari awal.
Dia hanya suka bersahabat, tapi ketika lu bersikap ekstra, dianya akan jadi dingin atau menjauh.
Pria atau wanita manapun merasa risih kalau diperlakukan kelewatan-baik oleh orang lain.
Karena sikap-sikap seperti itu terasa banget manipulatif dan seperti ada maunya.

Nah itu dia yang membuat lu GAGAL dalam memulai percintaan.
Lo GA BISA bercinta-cintaan, bersayang-sayangan dari semenjak awal.
Dia masih belum kenal elu, apalagi dia belum tertarik pada lu.
Belum waktunya untuk melakukan aksi-aksi romantis seperti itu.
Bisa-bisa lu malah bikin dia jadi kaget dan ilfill.
Atau Anda dianggap pria playboy atau wanita murahan.

Sekali lagi, setiap kasus romansa selalu terbagi atas tiga fase.
Pada Fase Pertama, gue sebut Pra-Relationship, lu dan dia masih tergolong orang asing.
Ini periode saling kenal satu sama lain secara santai dan sosial, bukan untuk bermain hati.
Lu juga ga bisa langsung berniat hubungan super serius dari awal ini, karena itu malah norak.
Masa' belum apa-apa sudah mau pacaran, apalagi nikah?!
Itu tanda-tanda kesepian banget!
"Love when you are ready, not when you are lonely."
Semua hal-hal cinta dan hati baru TEPAT lu jalankan di dalam Fase Kedua, gue sebut fase In-Relationship.
Dalam bahasa sehari-harinya, ini adalah fase pacaran, or dating, or whatever.
Jadi silakan lu berusaha memahami, menyayangi, dan mencintai jika dia sudah jadi KEKASIH lu.
Jika sudah kekasih, barulah dia layak dapat berbagai macam perlakuan spesial dari lo.
Silakan juga lu iseng bergombal ria karena dalam berpacaran itu bisa menghangatkan hubungan.

Fase Ketiga, gue sebut Post-Relationship, adalah periode ketika nantinya elu dan dia terpaksa putus.
Bisa putus karena sadar merasa tidak cocok, bisa juga karena adanya perselingkuhan dan lainnya.
Ini adalah fase tersendiri karena pembubaran hubungan biasanya tidak berlangsung mulus.
Beberapa waktu menjelang pembubaran pun biasanya sudah dipenuhi pola komunikasi yang TIDAK SEHAT.

Jadi ada banyak konflik dan drama yang terjadi di antara lu dan si dia.
Hubungan yang sudah nyaris kandas pasti TIDAK BISA diselamatkan dengan berusaha hangat dan romantis.
Kondisi ini umumnya butuh lebih dari sekedar janji-tidak-mengulangi atau memaafkan-dan-menerima.
Sulit sekali bicara dengan hati, karena masing-masing sudah terluka dan saling melukai.
Hal-hal manis yang lo lakukan di Fase Kedua pasti GAGAL TOTAL jika lo praktekkan di sini.

Berdasarkan hal-hal itulah gue melihat pentingnya memahami ketiga fase yang berbeda dalam romansa.
Jelas sekali masing-masing fase terstruktur dengan kebutuhan dan gayanya tersendiri.
Lo perlu sistem pola pikir yang fleksibel untuk beradaptasi dengan perbedaan fase itu.
Sistem kemampuan berpikir itulah yang memberi lu strategi tepat agar terhindari dari kerugian.

Misalnya kalau baru PDKT, ya lo jangan bergaya romantis seperti orang sudah pacaran.
Orang yang romantis itu TAHU ada waktu yang tepat untuk bersikap romantis.
Kalau baru PDKT saja sudah pamer sok romantis, itu menunjukkan kualitas diri yang murahan, 'kan?

Kalau baru PDKT, lo ga perlu sibuk memahami kebutuhan dan pola pikirnya.
Itu adalah tugas seorang pacar, sementara Anda pacaran aja belum, jadi untuk apa kerja repot-repot?
Elu fokus saja jadi orang yang menyenangkan dan mengajaknya bersenang bersama-sama lu.

Pelajari ketiga fase romansa itu: PRA-RELATIONSHIPIN-RELATIONSHIP, dan POST-RELATIONSHIP.
Asah kemampuan berpikir lu agar selalu ingat TIDAK memandangnya dengan sepele.

Jangan juga pernah tertipu dengan pemikiran-pemikiran yang simplistik menyamaratakan.
Satu pola pikir saja tidak cukup, lo perlu memiliki keseluruhan sistem berpikir yang sehat. Berfikirlah secara komprehensif.
Misalnya, konsep "Wanita ingin dimengerti" yang dilantunkan Ada Band itu hanya cocok untuk fase pacaran.
Sama sekali BUKAN untuk fase PDKT!

Ketika PDKT, minimalisir hal-hal yang lo BIASA/INGIN lakukan ketika nanti berpacaran.
Jauhkan diri dari perasaan suka-sukaan, cinta-cintaan karena itu norak sekali dilakukan awal.
Semua ada waktunya, jangan ingin hasil cepat instan seperti bocah ingusan supaya bisa pamer.
Perhatikan setiap langkah lu, supaya TIDAK mengeksekusi strategi yang salah di fase yang salah.

PDKT (alias pra-relationship) itu jauh lebih SANTAI dan SERU daripada ketika nanti berpacaran.
Pria, jadilah dewasa dalam mengontrol diri, tidak NAFSU untuk berpacaran.
Wanita, jadilah santai dalam berhubungan, tidak MENUNTUT untuk status pacaran.
Always have MUTUAL FUN with each other.

Sekian dulu tulisan gue kali ini.
Selamat menikmati BADAI OTAK yang menginspirasi lu semua.


Widi Noor Cahya.



No comments: