Sunday, June 19, 2011

Ibu Siami, dan Kejujuran Yang Terusir Itu


Shock membaca, dan menonton, berita tentang Ibu Siami. Seorang ibu yang berani menentang dan mengungkapkan ketika sekolah putranya malah menganjurkan melakukan “nyontek massal”. Alih-alih dibela, justru Ibu Siami dicerca oleh warga sekitar, dan bahkan sampai DIUSIR dari tempat mereka tinggal. Gw juga dalam masa pendidikan ini ga bersih-bersih amat sii. Jelas saat SD gw ga nyotek karena notabenenya masih anak baik. Masa-masa SMP dan SMA masa gw menikmati ilmu contek-menyontek, dan memang disitulah nikmatnya masa SMP dan SMA. Tahu bahwa menyontek tidak menjamin masa depan gw, akhirnya gw putuskan kuliah dengan hasil yang bersih (disamping tidak bisa nyontek lantaran satu ruang ujian isinya jarang dan pengawasnya mata dewa). Tapi seenggaknya gw ga nyontek massal dan terstruktur dari sekolahan. Nyontek ya nyontek aja, insting untuk bertahan hidup *bukan begitu teman-teman?*. Dalam wawancara dengan MetroTV, Ibu Siami berkata bahwa ia terpaksa mencari kontrak atau kosan karena tidak berani kembali ke rumahnya.
(Buat yang belum tahu: klik di sini: Nasib Ibu Siami)
Bagi gw, pejabat, aparat, atau wakil rakyat korupsi, mencuri, bertindak tidak etis – itu sudah hal biasa. Juga sudah biasa kalau mereka berusaha membungkam pihak-pihak yang mau membongkar kebusukan itu. Namanya juga penjahat, ya wajar tidak mau ketahuan.
Tetapi yang membuat gw shock adalah, bahwa WARGA SETEMPAT justru mendukung tindakan mencontek massal tersebut, dan bahkan menganiaya pihak yang mau menyuarakan dan memperjuangkan hal yang benar. Ini baru luar biasa.
Selama ini kita terbiasa dengan dikotomi Kebaikan vs. Kejahatan, dengan meletakkan masyarakat sebagai “Kebaikan”, dan para koruptor, wakil rakyat penjahat, teroris, pengusaha hitam, dan pemerintah zalim sebagai “Kejahatan”. Masyarakat adalah korban, kaum teraniaya, melawan sekelompok setan  jahat.
Maka gw pun shock berat kali ini, ketika justru “masyarakat” terang-terangan berusaha menindas suara jujur, suara yang melawan praktik yang salah.
Ada apa dengan “masyarakat”?


Teori pertama berkata, ini semua salah pemimpin. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Karena rakyat hanya meneladani pemimpinnya. Pemimpinnya korup moral, maka wajar kalo rakyatnya korup moral juga.
Gw percaya bahwa ada efek “teladan pemimpin”, tapi menurut gw ini bukan satu-satunya penjelasan.  Karena kalau masyarakat memiliki tata-nilai yang hanya pasif mengikuti pemimpin, menurut gw selain naif, ini merendahkan individu-individu masyarakat seolah-olah mereka tidak punya value-system sendiri. Dan kita menjadi seperti sapi yang mengikut saja harus pergi ke mana.
Ada yang menyalahkan sistem pendidikan. Karena sistem pendidikan yang jelek, jadi susah untuk lulus ujian, jadi “contek massal” adalah bentuk kefrustrasian massa. Walaupun mungkin ada benarnya, tetapi seram sekali membayangkan society yang mudah merasa terjustifikasi untuk berbuat curang dan menipu, hanya karena mereka “frustrasi”. Apalagi  ini belum sampai rasa lapar, “hanya” ujian nasional.
Kalau kita mengembalikan ke masyarakat sendiri, tanpa menyalahkan pihak luar, maka potretnya lebih suram lagi. Bagaimana sebuah society secara kolektif kehilangan kompas dan “sense of right and wrong”? Lebih lagi, secara kolektif mencerca mereka yang mau berbuat benar?
Gw meragukan agama, minimal agama yang penuh praktik lahiriah tanpa penghayatan substansi, adalah cara yang efektif mencegah praktik korupsi/ketidak jujuran. Semua pejabat publik disumpah dengan kitab suci saat pengangkatan. Dan jelas bahwa sumpah yang sudah dilakukan secara publik ini tidak efektif. Jelas ancaman neraka/iming-iming surga tidak cukup untuk mengajak orang menjauhi praktik kebohongan.
(Kecuali kalau “tidak jujur” dan “korupsi” dianggap ada di luar ranah agama?)
Maka cemaslah gw, kalau “masyarakat” sudah kehilangan “kompas hati” ini. Gw sendiri nggak tahu apa solusinya.
Mungkinkah ada hubungannya dengan cara kita membesarkan anak? Apakah orang-tua menanamkan tata-nilai yang menghargai kejujuran? Dan ini harus dilakukan oleh orang-tua sendiri, tidak “di-outsource” ke pihak lain: agama, sekolah, dll.
Waktu kecil, orang-tua gw tidak terlalu religius, dan tidak pula menakut-nakuti gw dengan surga dan neraka. Tapi gw inget dari kecil mereka menanamkan nilai-nilai dan etika universal, dari hal sepele sampai hal besar. Sejak kecil gw diajarkan harus tepat waktu (walaupun masih molor), tidak boleh telat baik jadwal, tugas dan SHOLAT (walaupun kadang masih lelet), apalagi kalo ada janji dengan orang lain (“hargai waktu orang lain” kata bokap). Almarhumah eyang juga mengajarkan untuk selalu menghargai hidup dengan cara menghabiskan makanan (karena latar belakang kehidupan gw yang beratapkan seng dan beralaskan lantai papan). Mereka juga sering mengajarkan konsep “malu” (shame). Dan merasa malu di sini bukan hanya malu kepada pihak eksternal (orang lain, orang-tua, teman, guru, Tuhan, dll), tapi justru malu internal – malu pada diri sendiri. Merasa malu karena sudah berbuat hal yang tidak terpuji, tanpa perlu dilihat orang lain.
Pejabat di Jepang bisa bunuh diri atau yang mereka sebut harakiri, minimal mundur, kalau dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya. Mereka punya budaya malu yang kuat sekali.
Ibu Siami dengan penolakannya terhadap “contek masal” yang diikuti dengan pengusiran oleh warga, rasanya menjadi tamparan bagi kita semua. Kenapa kita bisa kehilangan sistem etika internal, atau kompas nurani ini?
Karena dengan mengusir Ibu Siami kita tidak hanya mengusir seorang ibu pemberani. Mengusir Ibu Siami adalah mengusir kejujuran dari dari tata-nilai kita. Dan kalau kejujuran resmi diusir dari negeri kita, maka kita resmi menjadi bangsa pencuri…
Dan gw gak rela disebut bangsa pencuri…. Tapi yasudahlah, beginilah dunia ini.. Tak ada yang adil, tak ada yang pasti..

6 comments:

tetangga said...

bukannya sikap warga udah berubah ya sama ibu siami?
malah diminta balik ke 'kandangnya'
apalagi anaknya dapat predikat nilai UN terbaik di esdenya, dapet note/netbook lagi

sekolahnya juga dibikinin lab kompi

viniwidivici said...

yaa baguslahh kalo sudah diminta balik ke "kandangnya".. tapi sampai hari ini masih saja bercokol di tivi nih berita.. sekarang mah eksistensi pendidikan yang berorientasi pada hasil bukan proses.. kalau kampus kita beda lagi, lebih ke orientasi keuntungan.. *ups :p

tetangga is back said...

Orientasi pada hasil sih ga masalah, asalkan prosesnya juga diawasi. Ya cuma itu, panjangnya birokrasi di negara ngebuat proses itu jadi tak terawasi dengan baik. *ngomong apa sih gueee* hahaha

kalo masalah camp.us
yaaa namanya juga usaha, biar asap di dapur tetap ngepul kasian anak istri :D

viniwidivici said...

repot juga bay kalo apa-apa harus diukur dengan nilai, padahal yee yang buat nilai juga belum tentu punya nilai-nilai yang bener-bener haq.. boro-boro proses, nilai aja sampe botak mikirinnya..

haha, kalo kampus IM Telk*om mah bukan biar asap di dapur tetap ngepul. lah makannya aja di "dapur" yang ala ala luar.. ahaha

helloimwoovie said...

menurut gue bangsa ini udah dijajah sama orang2 dari kamu sok tau . Sok tau adalah ketika gengsi untuk tau bertemu dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki , yang bisa jadi masyarakat yang notabene hampir semua sok tau itu saling berlmba2 untuk mencari muka dengan mengusir si ibu , gue yakin kok , mareka ngusir si ibu , tanpa tau apa gunanya buat diri mereka :)

viniwidivici said...

yaap! mungkin seru kali yaa dengan demo si ibuk siami bisa masuk tipi gituh.. hehe.. krisis moral inih.. :)