Tuesday, May 31, 2011

Can Probabilities Be Beautiful?


When it comes to interpreting major events in life, there are two camps of view.
One extreme camp, which is probably more popular than the other, believes in the ‘Everything happens for a reason’ – that things have been preordained to happen, by Destiny, to fulfill some kind of a Grand Design.
The other camp, rightly not very popular, believes in probabilities. That a significant event, either happy or sad, happens just because it does – a probabilistic event. A disaster, a guy meets a girl, a pleasant unlikely encounter with an old friend – all just random happenings, and can be explained through probabilities. No ‘reason’, no ‘design’ – Life just, well, happens.
Obviously, it is easy to understand the easy popularity of the first camp, but I am not here to debate which one is right, because truth be told, no one will really know for sure. The Destiny supporters will show how things ‘fit’ together, as if they follow a great script – pointing out to an invisible Design. The probability supporter will just say that this is mere illusion, that the human brain is apt to find ’cause and effect’ and create narrative behind random events. (example: A disaster is caused by an angry God as punishment to evil doings).
I am not here to settle which one is right and wrong. But I want to focus on a classic argument that the second camp’s view results in a Life stripped of its wonders, because hey, how romantic can a ‘probabilistic explanation’ can get?
Here, I would like to take the unpopular position with the Probability camp, and argue that Life is still wonderful, even when things don’t happen for a reason. The most common mistake is to confuse ‘explanation of something’ with its wonder or joy. A simple example to start with: great constructions like The Eiffel Tower, or Liberty Statue. We know that men built them, and perhaps the blue prints are still preserved, but it does not mean that when we stand beneath them we cannot admire them as a great accomplishment?
Or to take a less mechanical example. Let’s take the human body. Science has explained a lot of bodily phenomenon, like every details of fertilization process and then pregnancy and most of what’s happening inside the womb. But does it mean we cease to wonder the beauty of a birth of a new human being?
I would use the same reasoning to view events in life. An unlikely encounter of a man and woman with matching personality, often described as “soulmates” by the Destiny camp, is probably, pun intended, another rare probabilistic event, without a Cupid hovering around to shoot arrows of Love. But does it mean its joy and pleasure reduced by any means? Not at all. “Explanation” of a romantic encounter is not to be mixed up with its “wonder”. The latter can still be felt independent of the former.
In fact, I would argue that the probabilistic view will result in a higher appreciation of a seemingly unlikely happy event! Here’s why:

Cerpen di Pagi Hari


pondok hijau
Kuhirup udara pagi ini
Dan hangat sinar mentari

Kicauan burung-burung
Kuucapkan selamat pagi

Kulangkahkan kaki kecilku
Susuri hari yang baru



kopi susu
     Dengan segelas kopi susu
Dan nikmatnya roti sumbu 
roti sumbu
                   Lalu aku bergegas mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Cukur kumis jenggotku yang tak karuan
Biar tampak rapi

Kukenakan kemeja putihku
Celana hitam dasi kupu-kupu
Sepatu dari kulit lembu
Setelan pas untuk seleraku





sepeda motor tua
Kupacu sepeda motor tuaku
Alon-alon sing penting mlaku
Ra usah ngece ra usah ngguyu
Yo wis ben wae iki karepku

Beginilah hari-hariku
Biar kamu-kamu semua tahu
Esok lusa kalo kita bertemu


Coba sapa aku

                                                        Coba sapa aku…

Tuesday, May 24, 2011

Arti dari angka 2475

Di blog gue yang sebelumnya, gue berujar akan menjelaskan arti dari angka 2475. Apasih arti dari angka 2475 buat gue dan kenapa mesti angka itu yang gue suka. Kalian sendiri punya ga sih angka yang kalian suka atau angka yang kalian anggap lucky number atau cursed number? 



As the time goes by, and we don't know why cuma ada sepuluh angka dasar yang diciptakan manusia. Which is; 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Dan biasanya every humankind punya angka yang menurut mereka angka keberuntungan, angka sial, atau angka yang ya-gue-suka-aja. Ada yang ga punya angka favorit? Serius lu? Okee  berarti lu ga biasa.. It's not a big deal. Lupakan.

Sebelumnya, keempat angka yang gue suka ini sangat familiar dalam kehidupan kita pada masa lalu, sekarang, atau bahkan masa depan. Tapi sebelumnya mau gue penggal dulu angkanya menjadi "24-7-5", biar gue lebih gampang jelasinnya. Dan mungkin penjelasannya akan sedikit konyol karena ini awal mula gue menyukai keempat angka ini.

Saturday, May 21, 2011

Mood Angkasa

Hari ini, Sabtu 21 Mei 2011..
Sudah semalam suntuk mood gue mandek di dasar hati. Tapi bukan galau loh yaa tolong. Semalam sii sempet chatting sama someone (bukan cowo yaa tolooong gue masiii normal) dan mood kembali boosting. Gue sii selalu percaya kalo berbagai macam perasaan seperti kebahagian, kesedihan, ketenangan, ketentraman, kegelisahan, bahkan kegaluan itu emank udah ada di hati kita masing-masing tanpa kita cari-cari, gimana kita membawa perasaan itu aja kesaat yang tepat atau kesaat yang tidak tepat, gimana kita ngeluarin dan ng-ekspresikan perasaan itu aja agar bisa keluar.
Lo lagi sedih dan butuh hiburan terus lo bilang, "keluar ahh cari hiburan". Padahal ga selamanya lo keluar terus bisa dapet hiburan yang bisa bikin bahagia lagi.
Banyak kann orang bilang, "I was there in the crowd, but I felt alone.."

Yaa itu gue sii.. Tapi kadang kita sebagai manusia biasa bakal menemui saat dimana kita ga bisa mengendalikan perasaan tadi. Which means variabel terikat -dependent- pikiran (variabel X) dan variabel tidak terikat -independent- perasaan (variabel Y) susah untuk disinkronkan, dan kita akan membutuhkan variabel intervening (variabel di luar variabel X&Y) untuk menyatukannya.

 Short case, siang ini gue memutuskan buat makan di RM. Teuku Angkasa yang berlokasi di Jl. Teuku Angkasa No. 37, Bandung. Tuh biar jelas gue snipping-in petanya.

Sunday, May 15, 2011

Dua Tipe Cowok

Pada dasarnya cowok itu dibagi menjadi dua tipe :

Pertama adalah mereka yang percaya adanya seorang wanita dalam kehidupan mereka, akan membuat mereka lebih bersemangat meraih cita-cita.
Kata mereka,
     'Malu dong sama pacar kalo nganggur.'
     'Malu dong sama dia kalo nggak rangking.'
Bagi mereka, kalo nggak pacaran malah kurang motivasi idup. Mereka butuh orang disamping mereka untuk proses pendewasaan mereka. Mereka ini butuh dihargai dulu sebelum mereka PD menghadapi hidup.
Mereka bilang,
     'Liat deh, gua pengen jadi orang yang lebih dewasa karena elo.'

Kedua adalah mereka yang terkesan jomblo seumur idup. Mereka nggak berani pacaran sebelum tua. Mereka bilang,
     'Takut IP-nya ditanya sama orang tua pacar.'
     'Guah belum punya apa-apa yang bisa dibanggain.'
Mereka memotivasi diri..
Sebenarnya mereka menempa diri mencari penghargaan dalam hidup agar suatu saat bisa PD menghadapi seorang perempuan.
Agar suatu saat dia bisa bilang,
     'Ini loh, gua udah mendewasakan diri. Gua yakin kog gua bisa ngebahagiain elo.'

Lo, tipe yang mana?

Wednesday, May 11, 2011

Kaya itu dosa?


Beberapa waktu yang lalu gue melihat mahasiswa ITB menggelar aksi di depan kampus. Iyaa itu loh ITB yang terkenal di bandung itu. Siapa sih yang ga tau ITB? Anda ga tau? Itu loh yang kampusnya sebelahan sama UAB-Universitas Alam Bonbin.. =)
Salah satu spanduknya bertuliskan :
Selamat datang putra putri Indonesia terbaik terkaya.
Gue mencoba memahami bahwa mereka ingin membuat sebuah sindiran akan mahalnya uang masuk IMTelkom ITB. Terlepas dari itu, gue merasa bahwa ada semacam pandangan bahwa kaya itu "memalukan", "dosa", dan sejenisnya. Akibatnya orang malu dan yang kaya kemudian "dihukum" (penalized) karena kekayaanya.

Sebagai contoh, perguruan tinggi menerapkan diskriminasi terhadap mahasiswa yang orang tuanya kaya mampus (sangking kayanya dah) dengan meminta bayaran yang lebih mahal. Bagi gue ini agak aneh. Aneh banget malah. Semestinya tidak ada beda diantara si kaya dan si miskin dalam pendidikan bukan? Kenapa kog malah jadi ruwet begini? *rambut gue kalah ruwet*

Contoh lain. Ada undang-undang yang mengharuskan perguruan tinggi menerima 20% mahasiswa berasal dari yang kurang mampu. Wooooott! Ini begimane mengujinya? Apa nanti ada perlombaan miskin-miskinan? Kemudian akan muncul jual-beli surat miskin. Justru orang yang memang tidak mampu beneran, biasanya memiliki harga diri untuk mengaku-ngaku miskin. Mengapa ini dibebankan kepada perguruan tinggi? Bukankah ini seharusnya merupakan tanggung jawab pemerintah? Seharusnya yang ada adalah hal sebaliknya, yaitu pemerintah memberikan beasiswa/subsidi kepada orang yang tidak mampu. Bukannya lepas tangan dan kemudian mengharuskan pihak laen yang menyelesaikan masalah ini.

Kembali ke topik, apakah kaya itu dosa?

Tuesday, May 10, 2011

#Sholat Adalah

penampakan masjid Agung dari salah satu bank tersohor :p
Sholat adalah.. Ya, gue yakin masih banyak orang yang belum bisa mendefinisikan arti dari sholat. Gue juga sama, gue masih belajar untuk bisa mendefinisikan apa itu arti sholat sepenuhnya. Beberapa hari yang lalu, gue bertemu dengan seorang karyawan, dia bekerja disebuah bank BUMN. Kami bertemu di masjid Agung di jalan Asia-Afrika. 

penampakan masjid Agung samping kanan-->
sama di bawah..


penampakan dari sisi lain bank tersohor tadi :p
Hati gue sungguh sangat bergetar melihat si akang tadi. Dia sangat-sangat terlihat gelisah karena belum menunaikan sholat maghrib, belum sempat gue menyapa dia sudah membaur dalam keheningan masjid dan kekhusyukan malam. Karena penasaran, dengan sengaja gue nunggu si akang tadi kelar sholat dan emank bentar lagi bakal masuk Isya. Finally, si akang kelar dan langsung aja gue meng-azzam-kan (membulatkan tekad) untuk menyapa dan berkenalan *biasa, bakat muka tembok   keluar*. Kurang lebih ini percakapannya :

Thursday, May 5, 2011

Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne

Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.

Pembuka:
Setelah bertahun-tahun menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.
Setelah terburu-buru nyupir karena takut terlambat, akhirnya saya beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di dalam undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.

Menunggu sang tamu datang :

Tuesday, May 3, 2011

Baru Punya Handphone

Ucup dan Acep baru punya Handphone.


Ucup: "Cep, ngapaen lo megangin pager rumah?"
Acep: "Ini cup, gue lagu mau isi pulsa.."
Ucup: "Apa hubungannya nempel di pager sama isi pulsa Cep? Telepon operator ajee.. susah 
          ameet sii?"
Acep: "Itu dia masalahnye.. Daritadi gue disuruh operator tekan pager, nah gue sudah tekan 
          berkali-kali kok kagak bisa juga yaa? Ampe bonyok nih jempol gue."
Ucup: "Gue lebih parah jek!"
Acep: "Emang lo kenape?"
Ucup: "Gue malah disuruh mencet bintang."






nb: maaf bila ditemukan kesamaan nama, 
ini hanya keisengan semata.