Friday, April 15, 2011

43 Kali Luas Indonesia.



Mempromosikan tempat-tempat tujuan wisata kita kepada para potential customer dapat dilakukan melalui media elektronik dan juga cetak, pengiklanan di televisi baik juga yang ada di halaman-halaman koran. Sebelumnya, alasan penulisan ini lahir dari kekecewaan saya terhadap ketidak-pedulian pemerintah terhadap potensi yang dimiliki oleh industri pariwisata kita.

Ini disebabkan karena pariwisata bukan hanya berfungsi sebagai salah satu sumber devisa negara, namun yang jauh lebih penting adalah karena pariwisata memiliki efek yang mampu membangun/memajukan daerah berserta penduduk lokal didalamnya.

Nyatanya sudah ada tindakan dari masyarakat lokal dengan membangun sarana-sarana penunjang kegiatan pariwisata, contohnya penduduk lokal yang mendirikan motel/penginapan dan menyewakan perahu di Riung, Flores. Namun kurangnya publikasi membuat tempat itu (Riung) kurang diketahui keberadaannya. Saya kutip Robert Tanur, seorang pemilik motel di salah satu tempat wisata di provinsi NTT tersebut,

“Media itu sangat efektif untuk promosi wisata. Tanpa melalui media, orang tidak akan tahu. Dalam hal promosi, media cetak lebih efektif karena bertahan lama dibandingkan media elektronik. Soal promosi, kita bisa belajar dari Kabupaten Alor yang setiap tahunnya selalu ada promosi expo budaya sehingga Sail Indonesia selalu menyinggahi Alor sebagai salah satu destinasi wisata, “

Yang bisa kita tangkap dari ucapan dia diatas bukan hanya pentingnya publikasi, namun juga keacuhan/keenggangan pemerintah untuk membantu proses mempublikasian sebagai jawaban untuk menyambut usaha yang telah dirintis oleh penduduk lokal (Robert Tanur) tersebut. Saya ambil contoh Indonesia bagian timur karena daerah ini yang selalu dianak-tirikan oleh pemerintah.

Kecewa adalah wajar jika hal yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, namun berhenti pada kekecewaan tanpa coba mencari solusi adalah bodoh. Sebenarnya menurut saya, jawaban untuk persoalan kurangnya publikasi ini telah ada sejak tahun 1958, yaitu pecahan uang kertas Rp.5, harus kita sadari bahwa gambar pada dua sisi uang kertas 5 rupiah ini sangat berpotensial sebagai alat publikasi pariwisata, dalam hal ini uang Rp.5 rupiah tersebut mempublikasikan eksistensi dari salah satu produk kebudayaan kita yaitu batik, serta juga rumah tradisional jawa tengah. Salah satu contoh lain yang sangat bagus adalah, pecahan uang kertas Rp.5000, lihat bagaimana satu-satunya danau tiga warna (Kelimutu,Flores) yang ada didunia ini dipublikasikan lewat uang kertas Rp.5000 tahun 1992. Ditahun tersebut sudah ada lebih dari 50000 wisatawan asing yang datang ke Indonesia, dan setiap dari mereka pasti bertemu dengan uang pecahan Rp.5000 tersebut, yang perlu kita ketahui disini adalah salah satu motivasi bagi turis untuk berpariwisata adalah sifat tourist curiousity, alias rasa ingin tahunya yang kuat (Julia Harrison,2003), mereka pasti akan bertanya mengenai gambar di lembar uang asing tersebut, berbeda dengan kita yang cenderung tidak memperhatikannya karena terbiasa.

Mari kita asumsikan pemerintah memanfaatkan sisi dari beberapa pecahan uang kertas kita sekarang untuk mempublikasikan tempat-tempat wisata yang masih kurang dikenal masyarakat luas c/o: Raja Ampat, Riung, Alor, Karimunjawa, Miangas, Sempu, Taman Nasional Laurentz.

Sekarang mari kita hitung, quota pecahan Rp.10.000 yang akan dicetak BI ditahun 2010 adalah sebanyak 820 juta bilyet, jika pada pecahan Rp.10.000 tersebut pemerintah bisa sedemikian rupa memasukan tourism campaign mengenai DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang kurang dikenal wisatawan asing & nasional, maka itu artinya pemerintah telah mempublikasikan tempat-tempat wisata macam Raja Ampat/Taman Nasional Laurentz pada 820 juta lembar uang kertas. Kalau dihitung, 820 juta lembar pecahan Rp.10.000 itu luasnya sama dengan 83.209.500 km persegi alias 43 kali luas negara Indonesia, sebegitu luas untuk sebuah pempublikasian.

Fakta diatas memang kelihatannya menarik, tapi sayangnya itu tidak bisa dijadikan patokan, 820 juta lembar belum tentu menarik 820 juta manusia kan?

Sekarang mari coba kita hitung lebih lanjut, statistik menunjukan total jumlah wisatawan mancanegara yang datang pada tahun 2009 adalah sejumlah 566.797 (sumber), pada tahun yang sama jumlah penduduk Indonesia mencapai 231.000.000 (hasil BPS), 64% dari jumlah itu merupakan working age = 147.840.000. Jadi kita peroleh total 148.406.797 manusia sebagai target publikasi yang juga berpontensi karena sudah memiliki penghasilan, namun karena berbagai macam hal serta alasan (c/o angka kemiskinan sejumlah 34.960.000, gaji rendah, inconsiderate people dll) kasarnya mari kita kurangi seburuknya 70% menjadi  44 juta manusia.

Jika pemerintah menggunakan uang kertas sebagai senjata untuk mempublikasikan DTW Indonesia bagian timur, c/o Raja Ampat atau Taman Nasional Laurentz, maka ada 44 juta orang yang tidak hanya menjadi target publikasi namun merupakan potential customer.

Anggap saja dalam setahun 10.000 wisatawan menghabiskan Rp.400.000 di Raja Ampat, itu sama dengan pemasukan Rp.4.000.000.000 buat daerah, indirect effects dari dampak ekonomi pariwisata ini bisa kita lipat gandakan untuk industri-industri pendukungnya, seperti industri linen hingga angkutan, tidak hanya berhenti disitu, sebagian dari Rp.4.000.000.000 juga akan diambil berupa pajak untuk lalu dialokasikan kepada pembangunan daerah tersebut.

No comments: