Tuesday, March 29, 2011

PASAR LOKAL ADALAH SEBUAH REPRESENTASI MEDIA.


Permintaan di pasar lokal adalah representasi dari media. Mengontrol media berarti mengontrol maunya rakyat. Tapi jelas dengan melakukan hal tersebut kita sebagai negara sudah menginjak paham liberalisme. Satu contoh yang mudah dan basi, pemblokiran situs-situs porno adalah sebuah penghinaan bagi paham liberalisme, dalam arti bahwa pemerintah tidak menganggap bahwa rakyat Indonesia mampu untuk memilih mana yang benar bagi dirinya sendiri.

Lalu bagaimana jika dalam kasus ini, pemerintah memang lebih tahu mana yang baik dan mana yang benar bagi rakyatnya?
Nyatanya tingkat pendidikan di Indonesia masih sangat rendah, hal tersebut memanifestasikan dirinya pada ketidakmampuan orang tua untuk memberi pelajaran sedari awal, bahwa hal-hal tersebut berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Lalu apakah kita sebuah negara yang tidak liberal? Apakah kita sebuah negara yang tidak menghargai hak-hak individu untuk melakukan apa yang mereka inginkan?

Yang saya yakini, liberalisme adalah selamanya benar, namun itu hanya berlaku jika fondasi pendidikan telah benar-benar kuat dan merata, lain katanya adalah saya mendukung pembatasan-pembatasan pada beberapa sektor dalam hal ini media. Mengapa media?

Seperti yang telah saya tulis di atas, bahwa pasar lokal adalah sebuah representasi media. Jika kita ingin mengontrol apa maunya rakyat, maka sebaiknya kita mengontrol media. Coba kita ingat-ingat kapan pertama kali Blackberry mulai menjadi trend? Tepat disaat Hollywood mulai menampilkan handphone tersebut dalam adegan-adegan filmnya. Disaat kita melihat artis-artis tersebut menenteng Blackberry, kontan juga saat itu kita diserang wabah Blackberry. Begitu juga dengan produk Apple yang telah menggunakan beberapa film seperti:
  • Forest Gump (1994)
  • Independence day (1996)
  • Fight Club (1999)
  • Sex and the City (1998-2004)
Blackberry awalnya adalah sebuah handphone yang sangat standard fiturnya, tapi melaluiplacement product dalam film-film tersebut, banyak orang yang membeli produk tersebut, pemasukan yang meningkat membuat RIM dapat lebih jauh mengembangkan produk tersebut hingga menjadi Blackberry yang kita kenal saat ini, sebuah alat komunikasi canggih. Lain lagi dengan produk-produk dalam negeri kita, barang-barang tersebut sangatlah berpotensi untuk berkembang namun untuk dapat melakukan hal tersebut dibutuhkan dana dan hal tersebut bisa didapat salah satunya dengan pemasaran yang bagus melalui media-media lokal, bisa jadi iklan ataupun bahkan melalui sinetron-sinetron kita.

Sinetron Indonesia? Apa yang bisa saya sarankan kepada mereka adalah secepatnya meminta “bagi untung” dari RIM, kalian tahu ada sekitar 300 ribuan lebih orang Indonesia yang menggunakan produk Blackberry tersebut? Dari keuntungan tersebut paling tidak produsen sinteron kita bisa memproduksi sebuah hiburan yang lebih mendidik daripada hanya sekedar mengeksploitasi perasaan manusia secara rendah dan berlebihan. Secara tidak langsung media kita (sinetron) telah merusak rakyat melalui tontonan-tontonan murahan sekaligus menjadi media yang memasarkan produk asing dalam hal ini Blackberry.

Banyak dari kita yang sering mendengar celoteh-celoteh seperti “anti-liberalisme” “anti-Amerika” atau apalah yang berbau perlawanan terhadap masuknya pengaruh asing secara ekonomi. Coba dipikir-pikir dahulu apa yang dimaksud dengan “anti-liberalisme”, kalau memang “anti-liberalisme” lalu mengapa kita menggulingkan pemerintahan orde baru? Mengapa sekarang menghina-hina Alm.Soeharto? Mengapa kita memilih presiden secara langsung? Mengapa kita harus marah-marah jika banyak orang Indonesia yang menggunakan produk-produk asing? Dalam hal media kita menginginkan kebebasan, seperti yang sering digembor-gemborkan, Free Speech. Tapi sadarkah kita bahwa pengaplikasian liberalisme terhadap siaran-siaran ditelevisi kita berdampak pada permintaan pasar lokal yang lebih condong kepada produk asing dibanding produk dalam negeri?

Hal ini terjadi karena kita tidak tahu batas dalam menerapkan liberalisme, disaat pemerintahan orde baru kita adalah negara yang dikekang medianya, begitu Alm.Soeharto jatuh, kita bertingkah bagai hewan yang belum pernah merasakan kebebasan sebelumnya, seketika juga semua politikus menganut paham liberalisme, entah karena pemahaman atau hanya sekedar menarik dukungan rakyat yang saat itu sedang dirundung wabah “gila kebebasan”.

Liberalisme adalah sebuah paham yang sangat indah, sebuah paham yang menghargai eksistensialisme seorang individu. Tapi dengan keadaan negara ini yang masih bobrok pendidikannya, ada baiknya kita membatasi media-media dalam hal ini iklan-iklan harus diutamakan kepada produk-produk dalam negeri, sinetron sepantasnya memasukan barang-barang buatan Indonesia didalam adegan-adegannya. Saya ingat bagaimana Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa tulisan-tulisan sastra adalah senjata untuk menggalakkan sosialisme. Sudah saatnya kita menggunakan media untuk kepentingan rakyat.

2 comments:

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
viniwidivici said...
This comment has been removed by the author.