Monday, March 28, 2011

Miris Lihat Perbedaan dengan Balikpapan Gara-gara Tambang


BALIKPAPAN – Jika banyak warga Kaltim yang prihatin dengan kondisi ibu kotanya, rasa-rasanya itu dapat dimaklumi. Bagaimana tidak, orang luar yang baru beberapa kali datang ke Kaltim pun sudah bisa menilai, betapa parahnya kondisi Samarinda akibat aktivitas tambang batu bara.
Kali ini, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan yang melontarkan kemirisan.
“Saya sudah beberapa kali melewati Balikpapan-Samarinda lalu Samarinda-Balikpapan. Sangat terang. Sangat terang bedanya,” kata Menhut, di sela-sela kunjungannya ke Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan, kemarin (25/3).
Beberapa jam sebelumnya, Menhut menghadiri Musyawarah Nasional Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, di Samarinda. Dikatakan, dia sempat meninjau sejumlah tempat di ibu kota Kaltim itu.
“Eksploitasi tambangnya sangat berlebihan. Gunung-gunung sudah berubah menjadi ‘kolam renang.’ Di mana-mana rusak. Sudahlah. Hentikan, Samarinda. Hentikan kondisi ini,” mirisnya.
Setahun lalu, Zulkifli mengatakan, pernah bertemu wali kota yang saat itu dijabat Achmad Amins.
“Saya sempat katakan, hidup itu cuma sebentar. Apa ini yang mau dibawa kalau mati? Kondisi ini sudah keterlaluan,” kata politisi Partai Amanat Nasional ini.
Zulkifli membandingkan pula dengan sejumlah daerah yang kondisinya nyaris seperti di Kota Tepian. Misalnya di Kalimantan Selatan dengan batu baranya dan Bangka Belitung dengan timahnya. Dia mengatakan, batu bara itu di bawa ke India dan sejumlah negara industri di Asia.
“Yang mengangkut orang Singapura dan Tiongkok. Yang diangkut triliunan, sementara kita cuma diberi sepersekiannya. Buat menanam pohon saja tidak cukup. Begitu, kok, mau,” ketus Menhut.
Di negara-negara lain, kata Menhut, justru sedang berlomba-lomba menanam pohon dan memperbaiki lingkungan. Tetapi di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Samarinda, malah memilih sebaliknya.

PUJI BALIKPAPAN
Jika Menhut melontarkan kalimat pedas kepada Samarinda, tidak demikian bagi Balikpapan. Kata-kata manis diberikan atas komitmen Wali Kota Imdaad Hamid menjaga Balikpapan dari kerusakan tambang.
“Sudah lama saya mengagumi Beliau (Imdaad, Red), dan baru sekarang bisa bertemu. Saya sudah banyak mendengar tentang program-programnya,” kata Menhut.
Selain komit tidak membuka tambang, Balikpapan juga aktif mengusulkan peningkatan status hutan kepada Kementerian Kehutanan.
“Mudah-mudahan ini dipertahankan oleh penggantinya,” lanjut pria kelahiran 17 Mei 1962 ini. Pengganti Imdaad, Rizal Effendi yang menjadi wali kota terpilih juga hadir dalam kunjungan ini.
Menurut Menhut, Imdaad patut menjadi contoh kepala daerah lainnya. “Jika kepada pohon saja wali kota sangat sayang, apalagi kepada manusia,” pujinya.
Dikatakan, Balikpapan betul-betul paham sebagai kota yang tidak memiliki sungai sebagai sumber air bersih. Sehingga, menanam pohon menjadi pilihan utama menjaga ketersediaan air.
“Yang seperti ini harus menjadi model bagi kota dan kabupaten yang lain,” lanjut dia.
Pada kunjungan di HLSW kemarin, Imdaad sekaligus menyampaikan usulan penambahan hutan lindung untuk buffer zone HLSW seluas 2.442 hektare. Dari sekitar 9.500 hektare luas HLSW, buffer zone perlu ditambah untuk mempertahankan hutan dari ancaman tambang yang berasal dari kabupaten yang berbatasan. Menhut memberi tanggapan.
“Ajukan. Saya pastikan itu disetujui, selama tidak ada masyarakat yang tinggal di dalamnya,” yakin Zulkifli. (fel/ha)


*nb: Editor akan membahas lebih lanjut tentang eksplorasi asing batu bara secara besar-besaran di Bumi Etam (Kalimantan) dan lemahnya tanggapan dari PLN selaku perusahaan listrik negara dalam memberikan infrasturuktur dan fasilitas sehingga sampai saat ini Bumi Etam masih kekurangan cahaya bahkan dalam kondisi ini, Bumi Etam adalah penghasil energi di Dunia.

No comments: