Friday, March 25, 2011

Masih Ingat Dengan Berita-Berita Ini?

Merasa nggak sih pemberitaan di media bergerak begitu cepat menyiarkan satu peristiwa demi peristiwa lainnya? Menimpa satu dengan lainnya, meninggalkan masalah-masalah yang bahkan belum terselesaikan, menenggelamkan mereka untuk mengejar keaktualan? Sejujurnya kita nggak bisa untuk menyalahkan media dengan tempo pemberitaanya seperti itu, peristiwa besar dan kecil terjadi tiap harinya dan kita bukan lah sebuah negara yang menganut paham sosialisme dimana ditegaskan oleh Presiden Ho Chi Minh, bahwa karya literature hingga lagu seharusnya dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan bersama, hal yang sama tentunya berlaku dengan media-medianya.
Disini media mengejar keuntungannya sendiri, banyak tetek-bengek cing-cong namun pada dasarnya satu kata ini cukup menjelaskan, rating, lengkap dengan bumbu retorik demi menarik mata perhatian penonton, tanpa memikirkan dampak lanjutannya.
Disini Saya kutip Pramoedya Ananta Toer…
Dalam mengubah, merombak realitas yang telah ada, dan menciptakan yang baru, tidak selamanya didapatkan hasil menurut yang direncanakan, bahkan kekeliruan-kekeliruan taktis tidak jarang mendatangkan akibat yang tidak diharapkan, tapi satu hal akan tetap dipegang, yakni prinsip untuk memenangkan proletariat.


Dengan mengutipnya, bukan serta-merta Saya pengikut Realisme-sosialis seperti Mbah Pram diatas. Yang menjadi inti dari tulisan ini adalah ada banyak peristiwa-peristiwa yang secara langsung merugikan rakyat kecil, peristiwa-peristiwa tersebut sempat gempar mengisi berita-berita di TV namun semuanya hilang tergantikan oleh berita-berita “aktual”, terlepas dari apakah masalah-masalah tersebut sudah diselesaikan.
Dua contoh dari begitu banyak berita yang tenggelam adalah…
  • Lapindo
  • Bank Century
  • Penyiksaan TKI kita diluar negeri
  • dan masih banyak lainnya
Apa sudah ada penyelesaian untuk kedua masalah diatas? Tidak! Kita sempat digemparkan dengan pemberitaan mengenai TKW bernama Sumiati yang dipotong bibirnya, saat itu hampir semua orang menuntut keadilan dari Saudi, blablabla anget-anget tai ayam hingga pada akhirnya berita itu ditenggelamkan oleh berita-berita “aktual” lainnya, hei ini WNI yang kita bicarakan, ini orang yang perlu dibela! Berita ini harus terus diangkat hingga tuntas! Nggak cuma sekilas lalu saja,

Bukti bahwa penyiksaan TKW bernama Sumiati ini hanya sekedar “berita lalu” adalah bahwa sekarang ada lagi satu TKW kita yang disiksa di Saudi, namanya Armayeh Binti Sanuri (20) asal Pontianak. Kenapa hal ini bisa muncul lagi? Karena penyiksaan sebelumnya hanya diberitakan sekilas untuk lalu ditenggelamkan begitu saja tanpa ada penyelesaian/penanganan yang serius, karena jujurnya tujuan dari berita hanya sekedar mengejar “rating”, kalau tujuannya untuk menyelesaikan ya seharusnya berita itu tidak diturunkan hingga benar-benar ada tindak lanjut.

Kalian ingat bagaimana kita merasakan persatuan saat Tim bola Indonesia masuk final AFF? Semua orang kelihatan bersatu, saat bencana Tsunami Aceh? Itu bukan sebuah pergerakan kecil, itu sebuah persatuan rakyat Indonesia yang berbagi satu perasaan yang sama, satu dalam persaudaraan, lihat dampaknya, semua orang disaat yang sama berteriak mendukung Indonesia dalam piala AFF, semua orang turun tangan dan menyumbangkan bantuan bagi korban-korban bencana alam hingga pada akhirnya kita berhasil melewati itu semua.

Pemberitaan di TV bukan seharusnya hanya “memberitakan” namun dapat dimanfaatkan sebagai senjata “propaganda” untuk membentuk ide masyarakat Indonesia itu sendiri, Saya tidak berbicara dalam konteks pembentukan opini rakyat terhadap satu-dua politisi atau parpol, buang jauh-jauh dua kata hina itu dari hal ini, Saya berbicara mengenai peristiwa-peristiwa yang bersentuhan langsung dengan orang kecil itu. Lapindo? Omong kosong sampah kalau Bakrie tidak mampu menyelesaikan masalah itu, Saya sudah bolak-balik porong *lewat inet tentunya* dan dampak dari bencana Lapindo itu masih terasa sampai sekarang. 

Presiden kita boleh jadi sudah menyerah untuk menuntut Lapindo, mengakuinya sebagai bencana alam. Pemerintah boleh jadi tidak perduli dengan nasib TKW kita diluar negeri, tapi apa rakyat Indonesia juga mau menyerah begitu saja dalam ketidakadilan? Berita seperti ini yang harus terus diangkat, bentuk kebencian rakyat terhadap ketidakadilan yang terjadi. Kalau Stasiun TV lebih mementingkan “keaktualan” berita, berarti ini sudah waktunya kita untuk mandiri dan saling mengingatkan orang disamping kita. Kenal dengan istilah Word Of Mouth kan? Itu senjata sekaligus jawaban yang kita punya untuk ini, cukup ingatkan orang disamping anda. Kalau Soekarno mengatakan bahwa kita tidak boleh sekali-sekali melupakan sejarah, apalagi terhadap realitas yang masih berlangsung!

Masih belum cukup? Sekarang media-media tersohor di negeri ini malah sibuk membicarakan berbagai macam hal yang secara internal tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan negara Indonesia. Dan bukan hanya media, bahkan semua orang yang mempunyai kewenangan untuk berbicara malah speak up didepan umum dan membahas isu-isu yang menurut saya bukan akar dari masalah di negeri ini, tepat! mereka membahas isu-isu di luar negeri yang sedang memanas dan mungkin untuk alasan itulah salah seorang teman saya berkata,
"iya, politik di indonesia emang BEBAS AKTIF. BEBAS buat melupakan masalah negaranya sendiri, AKTIF mencampuri urusan negara lain".

Sudahilah hal yang tidak membangun untuk negara kita, dan mulailah hal yang membangun negara kita, walaupun hanya sebesar biji sawi, semua ada maknanya. Jadilah pahlawan tanpa nama di sekitar lingkungan kita. Lupakanlah hal nama, pangkat, dan jabatan! Kita dapat berbuat lebih saat kita melupakan siapa diri kita tapi tetap mengingat darimana kita berasal!

No comments: