Widi Noor Cahya's Corner
Because life is readable, writable, and memorable. Reading so you know the world, and writing so the world knows you.
Sunday, February 10, 2013
Wednesday, February 6, 2013
If A Man Keeps Telling You He Loves You
I found that in a restaurant in Lembang called Maja House. It was a nice restaurant, with a view of a valley. I bet it’d be beautiful during sunset or at night, with city lights view.
I L.O.V.E sarcasm. So, when I saw that, I couldn’t help but giggled and took a picture of it. Apparently, regardless how romantic the restaurant can be, it is no place for dating (kidding).
Also, this one quote crossed my mind when I read that wall,
“Husbands are chiefly good as lovers when they are betraying their wives.” ~Marilyn Monroe~
Are men always like that? Are they treat woman sweetly out of guilt? Or when they hide something from woman?
I sure have no idea. It could be every possible ways. But two women, Monroe and the one who wrote that wall (which I believe a woman), say so. Anybody else agree?
Bos Sejati
Jadi ceritanya di Trans TV ada tv show baru judulnya Bos Sejati. Karena ngga ada yang kebetulan gw nganggur sekarang, gw jadi punya kesempatan nonton ini tv show deh. Jadi ceritanya Bos atau owner dari perusahaan tertentu nyamar jadi pekerja di perusahaan itu juga.
Gw sempet ketinggalan tadi awalnya, tapi mungkin aja usahanya disini semacam restoran, dan si bos nyamar jadi apa aja, merangkap tukang delivery, pencuci piring, koki, dan lain sebagainya.
Awal2 acara lucu banget karena si bos sempet kena semprot dari pegawai2nya tadi karena ga bener kerjanya. Tapi inti dari tv show ini ada di akhir acaranya, dimana si bos tadi manggil pegawainya tadi satu persatu dan ditanya,
"kamu kenal sama saya gak?"
"ga kenal, bapak siapa yaa?", tanya si pegawai
"saya bos kamu, nama saya pak zaldy" *bukan Zaldy Zulfikar loh yaa*
jeng jeng jeng *camera zoom in zoom out*
Si pegawai nampak terlihat shock karena sempet marahin si bos saat kerjanya ga bener. Tapi si bos ga marah karena pegawainya melakukan hal yang sangat benar dan sesuai SOP. Saat bekerja si bos tadi juga ngobrol2 sama pegawainya, bertanya2 motif mereka kerja dan sebagainya. Ada yg jawab pengen bahagiain orang tua, ada yg bilang mau kuliah, ada yg bilang pengen punya masa depan, dan ada yg bilang pengen berguna, dan pegawai yg bilang ingin berguna tadi adalah pegawai yg sudah berumur 60 tahun.
Pegawai yg ingin membahagiakan orang tua nya tadi ditanya oleh si bos,
"kamu punya handphone ga?"
"punya pak", jawab pegawai
"coba lihat hape kamu?"
"ini pak", si pegawai mengeluarkan hape yg baterenya sudah mencuat kemana2, diiket pake karet, dan bukan batere bawaan dari hapenya. Lalu si bos bertanya,
"kog gini hape kamu?"
"yaa gitu pak, baterenya keluar"
Lalu sang bos memberi pegawai tadi hape baru yg bagus untuk mendukung kinerja si pegawai, pegawai tadi langsung bilang terimakasih kepada sang bos. Lalu sang bos menyuruh pegawainya tadi untuk membuka kotak hapenya, dan kata2 yg membuat gw tersentuh adalah si pegawai berkata,
"pak, ini terlalu bagus pak, ini kemahalan pak buat saya", sambil menangis
"iyaa ga apa, itu hape buat kamu, kamu pantas mendapatkannya"
Lalu sang bos mengambil amplop lagi dari laci meja kerjanya dan bilang ke pegawainya bahwa ada sedikit rezeki dari si bos, si bos memberikan ke si pegawai langsung, pegawai pun langsung membuka amplop dan terdiam, lalu kata2 yg dikatakan pegawai bener2 buat gw getar segetar2nya.
"yaa Allah pak, ini banyak banget pak, ini kebanyakan buat saya pak"
"iyaa, kamu pantas mendapatkannya, itu buat kamu"
Entah, gw bingung menggambarkan emosi yg gw rasain ke si pegawai dalam tulisan, karena tulisan pun kadang tidak mampu mewakilkan emosianal. Yg buat gw getar dalam kasus ini ada dua hal selain perkataan si pegawai yg sangat2 rendah hati dan tidak duniawi, yaitu keberkahan yg diberikan kepada si pegawai melalui si bos.
Pertama gw pengen lihat dari sisi si pegawai dulu. Mungkin di jaman sekarang ini gw yakin dengan sangat yakin sedikit sekali orang yg jika diberi harta dan atau kemewahan lantas malah berkata "ini kemahalan dan ini kebanyakan". Dan kenapa pegawai ini bisa berkata bahwa pemberian yg diberikan kepadanya kebanyakan? Sedangkan untuk hidup saja dia pasti kekurangan.
Jawabannya adalah karena si pegawai itu mengerti bagaimana caranya bersyukur serta mengerti bagaimana caranya mendeskripsikan rasa syukur. Mendeskripsikan syukur? Pasti banyak yg bertanya2 gimana cara mendeskripsikan syukur. Syukur itu bukan lebih atau banyak, tapi syukur itu cukup!
Pegawai tadi sadar bahwa bukan harta yg banyak yg membuatnya bersyukur, tapi harta yg cukup yg sesuai kapasitasnya. Dia tau benar siapa dirinya dan dia tau dimana dia berdiri. Tapi Allah tidak pernah ingkar sama janji-Nya, kalau Allah berkata jika kita bersyukur maka nikmat akan ditambah, yaa ditambah lah nikmatnya. Contohnya si pegawai ini yg diberi uang melebihi kecukupannya dan hape yg canggih. Aa Gym juga selalu bilang,
"pilih mana? sepatu hanya punya satu tp cukup atau sepatu banyak tapi ga ada yg
cukup?" hahahahaha
Kedua, disini gw pengen lihat dari sisi si bos nya. Gw selalu pengen ngerasain hal yg sama seperti yg dilakukan si bos ini. Memberi cuma2 dan tulus ikhlas. Pas gw nonton tadi, gw liat muka si bos tadi bener2 bersahaja banget, teduh, tenang, seperti dunia itu ditangannya aja, ga dihatinya. Allah pun menjanjikan 9 pintu rezeki untuk para pengusaha, dan 1 pintu untuk karyawan. Walaupun diberi 9 pintu, tapi wirausaha bukan jalan yg mudah makanya ganjarannya juga sepadan, 9 pintu sekaligus dan keberkahan dalam hidup. Gw masih nyimpen banget ini cita2 jadi wirausahawan, semoga bisa menjadi salah satu dari mereka. Aamiin..
Akhir paragraf, ada hal yg pengen gw sampaein ke temen2. Kita ga pernah tau betapa beratnya hidup orang lain namun kita tidak perlu menyebarluaskan betapa susahnya keadaan kita. Melihat kisah pegawai diatas, jangankan uang dan handphone, mungkin senyuman pun dapet membuat mereka semangat. Memang munking ga ada artinya ucapan terimakasih ato semangat yg kita ucapkan kepada para front liners, but for them, it could make their day better. Selalu bersikap baiklah kepada siapa pun juga. Be positive! \(^,^)/
Tuesday, February 5, 2013
Tips-tips Mengelola Sekte/Gerakan Radikal
(Tentunya gw gak bener-bener ngajak bikin sekte kali ya…. gile aja kalo kalian percaya! Lagian gw takutlah sama Densus 88!)
Lagi asyik baca buku ‘Paranormality’ karya Prof. Richard Wiseman. Profesor Wiseman awalnya adalah pesulap profesional yang kemudian mengambil kuliah psikologi dan menghabiskan banyak waktunya untuk menguji fenomena ‘paranormal’. Buku ini keren banget karena Wiseman menjelaskan tentang psikologi dan cara kerja otak manusia melalui penjelasan kejadian-kejadian supernatural (penampakan hantu, astral traveling, berbicara dengan arwah, dll). Gaya penulisan pun jenaka dan seringkali ‘ngehe’ – jadinya topik yang lumayan berat bisa enteng dibacanya.
Kebetulan gw sampai bagian tentang ‘sekte’ (Cult), dan pas banget di Indonesia kan tempatnya ‘cuci otak’, ‘radikalisasi’, NII, dll. Dan ternyata ada beberapa prinsip yang kelihatannya mirip. Berhubung buku ini kayaknya masih lama diterjemahin, gw share aja deh secara singkat di blog. Siapa tahu membantu.
Salah satu kasus sekte terparah di Amerika Serikat adalah sekte Jim Jones, seorang pemimpin sekte Kristen yang mengajak ratusan pengikutnya tinggal di sebuah kompleks terisolir di Guyana, dan berhasil MENGAJAK (bukan memaksa) seluruh pengikutnya minum jus anggur bersianida bersama-sama. 900 pengikut sekte mati bunuh diri di hari yang sama, 270 di antaranya anak-anak.
Bagaimana bisa orang mempercayai sebuah ajaran sesat/radikal dan mengikutinya sampai kematian? Penjelasan umum adalah sebuah sekte memberikan seseorang “tujuan hidup” bagi mereka yang merasa hidupnya tidak bermakna. Selain itu, sekte seringkali menyediakan pengalaman “keluarga”, sehingga menarik bagi mereka yang kehidupan sosial/keluarganya tidak memadai. Tapi selain itu, menurut Prof. Wiseman, ada beberapa trik psikologis yang digunakan:
1. “Getting A Foot In the Door”. Sumpah gw gak tau menterjemahkan ungkapan ini. Kira-kira makna lengkapnya adalah, asal kaki kita sudah ‘masuk’ di pintu, akan lebih gampang untuk seluruh badan kita ikutan masuk (ada gak tuh padanan ungkapannya dalam bahasa Indonesia?)
Prinsip psikologinya adalah: kita pada dasarnya tidak mau langsung berkorban besar. Tetapi, jika diawali dengan pengorbanan ‘kecil’, akan lebih gampang nantinya kita juga mau berkorban ‘besar’ – secara gradual. Ilustrasinya ya nasihat nenek kita: pacaran jangan pegangan tangan! Sekalinya boleh pegang tangan, si cewek akan lebih gampang dipegang pundaknya, rambutnya, pipinya, terus cium pipi, cium bibir, buka kancing atas, buka kancing…UDAH, UDAH! INI KOK JADI STENSILAN!
Tapi jelas kan poinnya? Kalau langsung minta ‘main dokter-dokteran’ lebih susah buat si cowok, dibandingkan mulai dari yang kecil2, seperti main pegang-pegangan …..(kok gua jadi ngajarin gak bener?)
Begitu juga dengen sekte/gerakan radikal. Awalnya pengorbanan yang diminta kecil saja, diawali dari waktu. 1 jam seminggu bertemu rutin. Lama-lama makin sering. Kemudian mulai diminta mengerjakan hal sepele. Kemudian mulai dimintai uang sedikit. Terus uang banyak. Terus diminta meninggalkan keluarga. Sampai akhirnya diminta meledakkan diri sendiri.
2. Berpikir Seragam / Perbedaan Pikiran Segera Ditumpas. Manusia dikenal memiliki mental bagai biri-biri (herd effect). Kita cenderung mengikuti orang banyak di sekitar kita. Eksperimen psikologi menunjukkan manusia bisa mengikuti ‘suara mayoritas’ walaupun bertentangan dengan apa yang dilihat langsung (eksperimen yang dikutip di buku lucu banget dengan hasil yang menakjubkan – sayang terlalu panjang kalau dishare di sini)
Dalam sekte/gerakan radikal, pengikut baru akan dikepung oleh para pengikut setia, sehingga meyakinkan si korban bahwa memang ajaran yang dianut sahih/kredibel. Selain itu perbedaan pendapat dan pikiran kritis akan segera dihukum keras oleh pemimpin, dengan label ‘dosa’ atau ‘tidak beriman’. Bertemu/berdiskusi dengan mereka yang pahamnya berbeda sangat dilarang, dengan ancaman hukuman keras.
3. Penggunaan mujizat/fenomena supranatural. Pemimpin sekte/gerakan radikal juga menggunakan demonstrasi mujizat untuk meyakinkan otoritasnya atas para pengikutnya (“Gua bisa bikin keajaiban, jadi terbukti gw utusan Tuhan. Jangan macem-macem sama gua”). Tentunya, “keajaiban” ini tidak lebih dari trik sulap/ilusionis biasa, yang bisa dilakukan Deddy Corbuzier atau Pak Tarno. Tapi bagi mereka yang mau percaya buta pada pemimpinnya, ditambah ancaman hukuman kalau mempertanyakan, trik meijik bisa jadi mukjizat beneran, dan validasi atas pemimpin sekte/kelompok.
4. Ritual/Inisiasi Yang Berat/Menyakitkan. Dalam banyak sekte/gerakan radikal, para anggota baru harus melalui proses atau ritual inisiasi yang bisa sangat memalukan, atau menyakitkan secara fisik. Anehnya, hal ini tidak membuat mereka menjadi kapok dan meninggalkan kelompok tersebut. Sebaliknya, jika dilakukan secara efektif, akan menyebabkan mereka tambah setia pada kelompok/ajaran itu. Penjelasan Prof. Wiseman: karena kita sudah melakukan pengorbanan berat menjadi anggota sekte tersebut, tanpa sadar kita berusaha ‘membenarkan’ keputusan kita – dengan cara menjadi anggota yang semakin loyal.
Kasus yang mirip dengan kejadian sehari-hari kita sebagai konsumen. Misalnya, kalau kita susah payah dengan darah keringat mendapatkan tiket untuk sebuah konser, secara bawah sadar kita akan berusaha “menjustify”nya dengan meyakinkan diri bahwa konser tersebut bagus! Masuk akal juga sih, “Gila aja, gw udah capek kayak gini dapetinnya masak terus gua gak suka?”
Praktek ritual inisiasi berat ini sebenarnya lumrah juga di aktivitas kampus atau unit mahasiswa, atau militer: ada proses perploncoan yang berat dan fisik, sehingga anggota menjadi semakin terikat secara emosional
Bahkan semua prinsip di atas sudah diaplikasikan dalam dunia marketing, tentunya dengan tujuan membeli produk dan bukan meledakkan diri sendiri ya (konsumen yang mati kemungkinan tidak akan membeli produk kita lagi). Misalnya, Prinsip 1: berkorban sedikit – biasa digunakan salesman/marketer. Konsumen mungkin tidak akan mau ‘langsung’ membayar Rp 100,000. Tetapi kalau awalnya Rp 50,000, terus sedikit-sedikit “diupgrade”, “diupsize”, dll, lama-lamanya jadinya Rp 100,000 juga! Begitu juga Prinsip 3: mujizat, biasa digunakan dalam demo produk atau advertising, iya kan? 
Begitulah teknik-teknik menjalankan sekte/kelompok radikal menurut Prof. Wiseman. Kalau kita bandingkan dengan kisah-kisah yang sekarang ramai di media massa mengenai “radikalisasi”, ada kemiripannya ya? Jadi kalo punya temen/keluarga yang terlibat kelompok-kelompok yang menggunakan teknik-teknik di atas, hati-hati yah!
By the way, bukunya recommended banget! Terakhir ada yang bilang sudah dijual di Indonesia. Tapi ya itu, masih impor sayangnya.
Sekian sharing sedikit dari buku ini, siapa tahu berguna, minimal mencerahkan.
Label:
resensi buku,
review,
tips and tricks
Saturday, February 2, 2013
Serial Pemimpin : Didengar Atau Mendengar
Kalau ditanya kenapa judul post nya pake kata serial yaa kemungkinan besar post ini akan berlanjut ke seri selanjutnya, dan pada seri kali ini gw bakal beropini tentang kepemimpinan.
In the very beginning, pola pengajaran kepemimpinan yang diajarkan kepada anak2 sudah salah menurut gw. Sedari kecil kita dituntut harus bisa berbicara di depan umum. Dari jaman SD sampai lulus kuliah. Ga masalah memang berani berbicara di depan khalayak ramai. Yang jadi masalah buat gw, berbicara di depan umum ini tidak dibarengi dengan pengertian bahwa kita harus berbicara untuk kita sendiri, bukan atas orang lain. Karena cara setiap manusia dalam memandang dan berpendapat pastilah berbeda.
Alhasil, lahir lah generasi2 muda yang speak up. Mereka mampu berbicara untuk didengar, namun mereka tidak mampu mendengar. Generasi yang egois dan tak mampu memahami perasaan orang lain. Generasi yang memaksakan kehendak dan generasi ini yang akan memimpin dan melanjutkan tongkat estafet perkembangan Indonesia. Yakin sanggup?
Sedikit manusia yang sadar bahwa semakin banyak dirinya berbicara semakin sedikit dia mempunyai kesempatan untuk mendengar, mendengar suara selain suaranya sendiri tentunya. Dan semakin sedikit mendengar, maka semakin hati si manusia tadi mengeras dan membatu, lalu lahirlah manusia yang egois.
Lihatlah pemimpin2 sekarang ini di semua lapisan masyarakat. Mereka hanya mampu berkoar dan arogansi. Sekali pendapat ditentang, urat-urat kepala semburat mencuat. Yahh maklum lah, karena sedari kecil mereka diajarkan untuk berbicara bukan mendengar.
Lalu ada apa dengan mendengar? Yaa seharusnya sedari kecil para pemimpin harus diajarkan mendengar lebih banyak ketimbang berbicara.
Sedikit juga manusia yang sadar bahwa dengan semakin banyak mendengar semakin banyak kesempatan untuk mereka belajar bagaimana seharusnya berbicara. Dan semakin banyak mendengar maka semakin hidup hatinya, lunak dan bahkan bisa menjadi mata air dimana air selalu bergerak kebawah menunjukan pribadi yang rendah hati, dan seperti air yang bergerak, selalu mensucikan.
Selama hidup gw yg kurang lebih 1/3 masa hidupnya Rasul, bisa dihitung jari kesempatan gw untuk menjadi pemimpin, baik dalam berorganisasi maupun kepanitian. Berarti sedikit juga kesempatan gw untuk berbicara. Sedari kecil gw jarang didengar, semua pendapat yg gw kemukakan jarang banget diterima. Awalnya gw jadi minder karena ga mampu ngimbangin kemampuan teman2 dalam mengemukakan pendapat. Tapi dari situ akhirnya gw sadar, semakin gw ga didengar semakin banyak pula kesempatan gw untuk mendengar, dan kesempatan itu yg menjadikan hati dan jiwa kita besar. Penolakan, ketidaksetujuan, beda pendapat, beda pemahaman, dan atau sejenisnya bagi seseorang yg jarang didengar sungguh sebuah pembelajaran hidup dan moral, membuat pribadi berjiwa dan berhati besar menerima perbedaan. Kebesaran jiwa dan hati inilah yg tidak didapat pemimpin2 hari ini. Karena sedikitnya intensitas mendengar yg pemimpin2 masa ini miliki, perbedaan kecil pun pasti susah dan berat hati mereka terima. Padahal dunia ini dibangun dalam satu tujuan diatas berbagai macam perbedaan.
Gw gak begitu suka dengan orang yang terlalu banyak ngomong tapi ga bisa mendengar (kebanyakan pemimpin nih yg gini). Atau sekalinya mendengar lantas berbeda dan malah arogan, egois. Tapi gw suka banget sama orang yang suka berbicara namun tetap rendah hati, tidak egois, dan humoris (pasti pelawak dalam profesi/ kehidupan). Sayangnya orang seperti mereka pasti tidak akan pernah mau menjadi pemimpin. Kenapa? Karena dunia ini terlalu indah untuk mendengar canda tawa ketimbang berbicara dengan amarah murka.
"the quieter you become the more you are able to hear". -Backtrack
Label:
perspektifku dan opinimu
Saturday, December 22, 2012
Another Start
Gila gila, udah lama banget blog aye kosong melompong gini. Ga ada tanda2 kehidupan baik travel journal, banyolan, perspektif, culinary report, review buku, dan atau lain sebagainya.
Kalo mau pake alasan sih alasan yg paling awal bakal disalahin yaa operator modem. Ga dapetin operator yang mumpuni. Ada yang bagus harganya mahal dan kuota dikit, ada yang murah dan kuota banyak tapi sinyalnya hidup enggan mati tak mau, ada juga operator yang kaya sampah, kenapa? karena udah mahal, kuota dikit, dan sinyalnya lemah syahwat.
Ada lagi nih alasan lain yang lebih berkelas. Kemaren2 sibuk ngelarin skripsi, hahahaha. Padahal ngerjain skripsi ga nyampe setahun. Terlepas dari alasan2 yang udah di mention di atas, emang pada dasarnya aye juga kehilangan spirit menulis. Entah kenapanya juga ga tau, just lack of interest.
Tapi gw juga ngerasa sih gw jadi jarang nulis karena udah punya pacar. Kenapa? Yaa simple-nya gw dulu ngeblog sebelum punya pacar dan cukup lama menjomblo, which is blog adalah teman yang baik bagi para jomblo-ers. Karena ga semua teman punya waktu jadilah blog menjadi teman terbaik yang selalu punya waktu. Bisa celoteh banyak hal dan ga peduli siapa yang mau baca. Tapi setelah punya pacar jelas gw lebih sering curhat sama pacar. Dan karena blog gw isinya emang hanya 2% yang isinya curhat dan sisanya banyak bahas hal lain, jadinya hal lain yang sering gw bahas di blog itu gw bahas bersama pacar. Karena ibarat blog, pacar gw adalah blog yang bisa berbicara. Berisi konten informatif tapi bisa kasih feedback, hehehe.
Setelah kemaren2 blog-walking dan ketemu orang2 yang masih rajin nulis dan isi blognya "pinter", gw jadi punya semangat untuk blogging lagi walaupun ga janji bakal istiqamah apa engga tapi hope so sih istiqamah. Dan sekarang berharapnya, semua obroloan insipiratif bersama pacar bisa juga dibagikan di blog ini. Aamiin..
Percaya ga percaya juga yang awalnya tadi cuma mau asal2an nulis eh sekarang udah bisa sepanjang ini celotehnya. Semoga kedepannya bisa nulis sesuatu yang berisi dan bermanfaat lah yaa. Masih ada hutang travel journal dari trip jatim kemaren yang belum di tulis dan beberapa tulisan tentang perspektif gw.
Dan pada akhirnya gw ingin meminta maaf kepada blog ini yang sudah ditelantarkan pemiliknya. Oke happy long weekend and let's foundue-ing. :D
Wednesday, November 14, 2012
Wonderful Indonesia | Feeling is Believing (HQ)
Feeling, believing, this is the Wonderful Indonesia.
Saturday, August 11, 2012
Nasehat Untuk Sahabat
Lakukanlah sesuatu itu dengan semampumu, tidak usah memaksakan diri. Masing - masing sudah ada ukurannya sendiri. Pilih jalan yang kita suka, yang memang sesuai dengan pilihan hati kita. Karena sejatinya Hati itu akan cenderung memilih yang baik, bukan yang buruk. Mereka yang ahli dalam matematika belum tentu bisa ahli dalam hukum, begitu juga sebaliknya. Pilihlan jalan yang sesuai dengan kapasitas diri kita, karena pekerjaan itu sendiri bukan hanya ditentukan oleh 1 faktor saja.
Jangan pernah pesimis ketika suatu hal yang kita inginkan tidak terjadi sesuai dengan yang kita inginkan. Bisa jadi apa yang inginkan itu tidak baik buat kita, posisikan diri kita masing - masing pada tempatnya. Tidak selamanya harus memiliki peran yang tinggi, tapi dimana ada peran kosong disitulah kita ada. Peran yang tinggi tidak menjanjikan akan memberi hasil yang tinggi pula, Apa yang menjadikan peran itu menjadi tinggi adalah ketika Peran itu dilakukan sesuai dengan ketepatan. Ketepatan kebutuhan, Ketepatan Waktu maupun ketepatan sasarannya.
Jangan pernah pandang Suatu pekerjaan besar atau kecilnya, para pemimpin tidak memandang secara berlebihan pekerjaan besarnya, namun mereka juga tidak pernah meremehkan pekerjaan - pekerjaan kecil mereka. Jadilah diri sendiri, menjadi pribadi yang mencintai apa yang dimiliki. Semua telah ada bagiannya, kita tinggal memilih mau menjadi apa kita nanti. Apakah Seorang Presiden, Guru, Tentara, Polisi atau Pengusaha. Ukuran kesuksesan maupun kesenangan setiap orang berbeda - beda, Jangan memaksakan diri menjadi orang lain. Menjadi diri sendiri dengan kemampuan yang ada itu lebih baik. Daripada harus menyamar sebagai bayangan, yang hanya bisa bertahan dalam beberapa waktu saja.
sumber : note fb seorang sahabat 

Label:
daily blog,
perspektifku dan opinimu
Thursday, June 14, 2012
Heaven ( Ailee 에일리 Cover ) by Audrey, Georgina, & Gamaliel
Kayanya si Gamal butuh temen deh, kasian dia cowo sendirian nyanyi.. *pengen numpang keren* kekekeke
Happy listen.. Such a great cover!
Monday, March 12, 2012
Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan
Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini.
Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” kann yaa?
), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius 
), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius 
Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Broh”?
) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Broh sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para putera/i bangsa, yang lebih muda dari Mas Broh tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.
) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Broh sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para putera/i bangsa, yang lebih muda dari Mas Broh tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.
Mas Broh masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Broh datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani yang tenang dan damai lebih penting lagi. Karena itulah Mas Broh tidak pernah silau dengan harta.
Mas Broh tumbuh dan besar dalam keluarga yang mementingkan memperlakukan semua manusia dengan baik, tanpa memandang bulu. Mas Broh diajarkan untuk tidak boleh mencurigai mereka yang berbeda. Karena itu Mas Broh berteman baik dengan semua orang, tanpa memandang agama, suku, golongan. Dan Mas Broh menilai kebaikan seseorang dari aksi dan tindakannya, bukan karena label agama atau sukunya. Kalau seseorang baik kepada sesamanya, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, ya dia orang baik, tanpa embel-embel lain.
Saat Mas Broh memasuki dunia politik, dia tahu dia membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Mas Broh tidak punya modal pribadi yang besar. Selain itu, mencurahkan banyak uang di awal berisiko menciptakan mental “balik modal” seperti yang banyak dimiliki banyak politisi sekarang. Tetapi Mas Broh juga tahu bahwa “dukungan dana” dari “sponsor” dan “donatur” berisiko hutang budi yang jadi masalah di kemudian hari. Maka Mas Broh memikirkan beberapa alternatif lain yang lebih baik.
Pertama, Mas Broh berusaha mencari media murah untuk membuat masyarakat mengenalnya. Social Media termasuk media murah meriah, yang semakin mudah diakses dengan semakin murahnya ponsel yang bisa mengakses internet. Facebook dan Twitter membuat Mas Broh lebih mudah diakses, selain itu juga memudahkan dia mengamati “bercakap-cakap” dengan banyak anggota masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu menghabiskan biaya dinas!
Mas Broh tidak punya uang untuk membeli slot waktu di TV. Dan Mas Broh tidak punya stasiun TV untuk keperluan mempromosikan dirinya. Jadi dia memanfaatkan “tv gratis” yang namanya YouTube. Dia akan merekam dirinya sendiri untuk menjelaskan cita-cita dan visinya tentang Indonesia, masalah-masalah negeri yang akan menjadi fokus perhatiannya, dan ide-ide konkrit untuk memajukan bangsa melalui media ini. Dengan ini banyak orang yang bisa mendengar langsung rencana-rencana Mas Broh via komputer di rumah, kantor, ponsel pintar, ataupun Warnet.
Tetapi tentu saja pengguna social media dan internet hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Tetap saja dana besar masih diperlukan untuk menjangkau banyak rakyat melalui media konvensional – apa itu iklan TV, cetak, radio. Belum lagi dana-dana lain yang terkait dengan kampanye, dll. Mas Broh pun pusing karena kebutuhan untuk donor tak terhindarkan lagi.
Akhirnya Mas Broh memilih ide radikal untuk pendanaannya, yaitu TOTAL TRANSPARANSI dan PENDANAAN MASYARAKAT. Dalam pendanaan oleh masyarakat, Mas Broh terinspirasi dengan tim sukses Obama yang menggerakan dukungan dari setiap lapisan masyarakat, sedollarpun pun bermakna. Pendanaan masyarakat ini digabungkan dengan Total Transparansi. Siapapun yang menyumbang akan DIUMUMKAN TERBUKA di website Mas Broh, tanpa memandang bulu apakah itu perusahaan besar atau masyarakat kecil. Dengan cara ini Mas Broh hendak menunjukkan itikad baik dalam bentuk akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat sepenuhnya. Karena tidak ada arus dana yang “tersembunyi”, tidak ada yang perlu ditakuti akan diobok-obok di kemudian hari.
Selain itu, karena transparan, Mas Broh mau menghindari godaan perusahaan besar yang mau menyumbang tapi “ada maunya” nanti. Karena diberitakan transparan, perusahaan hitam pikir-pikir dua kali untuk menyumbang secara berlebihan karena akan dibaca oleh masyarakat.
Mas Broh sadar dia tidak akan mampu bersaing melawan calon-calon politik lain yang sendirinya adalah pengusaha berkantong tebal, atau memiliki koneksi dengan pengusaha. Tapi Mas Broh sedari awal tidak mau terjebak dalam pikiran “harus dapat untung, minimal balik modal” jika berkuasa. Dan tentunya Mas Broh tidak mau berhutang budi pada sekelompok kecil orang.
Jika harus berhutang budi, Mas Broh memilih berhutang budi pada RAKYAT. Dengan cara ini dia tahu bahwa jika dia berkuasa itu karena rupiah dari rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kerja yang jujur dan berintegritas.
Walaupun tidak berharap banyak pada mulanya, cara Mas Broh yang ‘nyeleneh’ ini mendapatkan perhatian banyak orang. Mirip dengan “Koin Untuk Prita” yang menjadi bola salju bergulir besar, metode Mas Broh yang bergantung pada rupiah dari rakyat mendapat sambutan hangat. Rakyat dari berbagai lapisan bersedia mendukung kandidat yang mau perjalanan politiknya BERSIH DARI AWAL. Sesuatu yang diawali dengan bersih, semoga berujung baik pula, demikian logikanya. Setiap hari, di website Mas Broh bisa dilihat siapa saja yang sudah menyumbang Mas Broh, termasuk jumlahnya.
Dan memang benar, walaupun dana yang diraih Mas Broh masih kalah dibanding politisi-politisi lain yang berbeking pengusaha, tetapi Mas Broh lebih tenang hati nuraninya. Dan juga tidak ada hutang budi pada pihak tertentu selain rakyat kebanyakan.
Dalam mempersiapkan tokoh-tokoh yang kelak akan membantu Mas Broh dalam menjalankan amanahnya jika terpilih, Mas Broh memilih orang-orang berdasarkan kompetensinya. Bukan karena sama agamanya atau sama sukunya. Cara Mas Broh dibesarkan yang diharuskan tidak mendiskriminasi orang memungkinkan Mas Broh mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Dan dengan cara ini, Mas Broh bisa mengenali bakat-bakat terbaik dalam menjalankan negeri, tanpa memandang latar belakangnya. Yang penting memiliki panggilan tulus untuk mengabdi masyarakat, memiliki kompetensi di bidangnya, dan karakter yang baik, maka itu sudah cukup.
Mas Broh juga memutuskan untuk tidak melibatkan keluarganya dalam politik. Mas Broh sudah membuat persetujuan dengan anak2 dan istrinya bahwa selama dia masih memegang jabatan, mereka tidak boleh ikut dalam politik. Walaupun terkesan kejam, Mas Broh hanya ingin memastikan bahwa tidak ada “conflict of interest” antara keluarga dan profesional. Dan “perjanjian” dengan keluarga ini dibuat public, supaya masyarakat menjadi alat kontrol pertama untuk pelaksanaannya.
Seluruh awal perjalanan karir Mas Broh ini bisa disummarykan sebagai spirit AKUNTABILITAS PADA RAKYAT SEJAK AWAL. Menghindari hutang budi pada pengusaha, menghindari hutang finansial dari diri sendiri, semuanya supaya tidak jadi hantu di kemudian hari. Dialog dan program transparan menggunakan sosial media adalah cara murah meriah untuk menjadikan Mas Broh mudah ‘diakses’ orang awam….
Sekian dulu mimpi gw tentang Mas Broh si Pemimpin Impian dan cara-caranya mengawali karir politik….
Mungkin ada pembaca yang mau “menyumbang” mimpi bagaimana Mas Broh bisa menjadi pemimpin impian? 

Saturday, February 4, 2012
Syarat Lulus S-1, S-2, S-3: Harus Publikasi Karya Ilmiah
Just Re-blog :
| Surat Edaran Dikti yang memuat ketentuan bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memuat karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Ketentuan ini berlaku bagi lulusan setelah Agustus 2012. |
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.
Disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia. Apa saja bunyi ketentuan itu?
1. Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.
2. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah
nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti.
3. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal
internasional.
Ketentuan ini berlaku mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kompas.com menghubungi Dirjen Dikti Djoko Santoso dan berjanji akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai ketentuan ini pada hari ini, Jumat (3/2/2012).
Beberapa waktu lalu terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah. Tak hanya karya ilmiah para mahasiswa, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri juga mengakui minimnya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.
"Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis," kata Eky kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Label:
inpoh dan berita,
reblog-repost
Friday, February 3, 2012
Sesumbarkah? Menyuarakan rencanakah? Atau berdiam dan bermimpi sendiri?
Bismillah.. Apa kabar sobh.. *mencoba gaul*
Udah lama banget ga nulis nih. Eh nulis sih sebenernya sering cuman malah masuk ke draft karena ga ada waktu full buat nulis seharian sampe mata berkantung dikarenakan skripsi dan the last final exam. Oke, diam kalian! Bagian ini emang gw lebay aja. 

Sebenernya nulis yang berkualitas itu harus didasarkan pengalaman yang bener2 dialami dan meninggalkan "sesuatu", sehingga sesuatu itu meninggalkan bekas yang bisa di tumpahkan ke dalam sebuah draft dan di generalisirkan menggunakan huruf yang membentuk kata lalu menjadi kalimat. Oke, skip!
Jadi di postingan kali ini gw cuma pengen cuap-cuap basah aja. Well oke, gw pengen bahas masalah yang menyangkut tentang tipe cara penyampaian yang antara lainnya ada sesumbar, menyuarakan rencana, atau berdiam dan bermimpi basah. Eh bukan, bermimpi sendiri maksudnya. Awalnya sii kenapa pengen nulis ini sekedar ingin menyuarakan pikiran aja supaya temen2 bisa bedain bahwa ketiganya berbeda.
Oke, just let's begin! 

Subscribe to:
Posts (Atom)


